25 Tahun Naif : “Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia”

25 Tahun Naif : “Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia”

Sumber foto : Diambil dari website www.naifband.com

Seperempat abad bermusik tentu hal itu kemudian jadi sesuatu yang berbeda jika dibanding pertama kali mereka iseng buat main band di kampusnya dulu. Musik kemudian jadi hidup buat mereka yang ada di tubuh Naif

Dalam sebuah puisi berjudul ‘’Maju’’, ada hal menarik yang dituliskan Chairil Anwar pada bait ke dua puisi tersebut, "Sekali Berarti Sesudah Itu Mati", yang kemudian jadi kutipan terkenal ‘Si Binatang Jalang’ kala dirinya mengobarkan semangat perjuangan mengusir penjajah, tujuh dekade silam. Kutipan tersebut kemudian menjadi relevan dengan yang belum lama ini saya baca, tentang bubarnya grup musik Naif, setelah lebih dari dua dekade bermusik bersama. Dari mulai tingkah iseng di kampus IKJ, hingga akhirnya main-main mereka menjadi bukan main kala lagu-lagunya membekas dan jadi soundtrack banyak orang dalam masing-masing kehidupannya.

Bubarnya Naif membawa lamunan saya ke belakang, ketika grup musik Semakbelukar dan Daramuda juga memutuskan hal yang sama. Bedanya, dua grup musik tersebut berusia lebih pendek jika dibanding Naif yang mencapai umur 25 tahun. Namun meski begitu, ketiganya sama-sama mengamini apa yang mas Chairil Anwar katakan tentang "Sekali Berarti Sesudah Itu Mati", karena alih-alih memaksa hidup dengan ketidakjelasan, mereka memilih ‘mematikan rumahnya’ agar lenteranya tetap menyala, meski penghuninya sudah tidak tinggal disana.

David, Emil, Pepeng, dan Jarwo (oh iya Chandra juga), mungkin sudah meninggalkan rumahnya yang bernama Naif, namun bangunannya masih ada, membekas dan monumental, seperti halnya lagu-lagu mereka yang sampai di hati pendengar. Lagu mereka hadir kala kita dan sang kekasih kerap bertengkar, lalu saling sindir lewat lagu “Air dan Api”, atau justru kita kemudian mengingat manisnya kisah “Johan & Enny”, sampai akhirnya kita tahu Naif adalah “Rumah Yang Yahud” bagi para penikmat karyanya. Namun keputusan untuk bubar sudah dilontarkan, bahkan, ketika rekan-rekan sesama musisi bersinergi membuat album tribute untuk Naif dan mencoba menyalakan “Si Mesin Waktu” untuk kembali pada masa Naif berunding membubarkan bandnya, David, Emil, Pepeng, dan Jarwo rasanya akan tetap dengan keputusan mereka untuk membubarkan Naif.

25 tahun bermusik bersama, dan mungkin jika dihitung usia pertemanan mereka akan jauh lebih lama lagi. Mungkin jauh melampaui usia para pendengarnya yang kemudian mendadak retro di usianya yang besar pada era milenium baru. Saat itu Naif seperti membawa gerbong band-band IKJ lainnya untuk muncul ke permukaan, dengan gaya yang senada dengan musik-musik vintage dan kekhasan masing-masing, yang jujur saat itu terbilang unik di industri musik tanah air. Ketika banyak musisi/band berlomba-lomba mengejar sound modern dalam lagunya, Naif sekonyong-konyong melempar pendengar pada masa ayah dan ibunya melakukan pendekatan saat remaja. Namun anehnya mereka suka dengan apa yang Naif tawarkan. Sampai titik itu kita bisa bilang jika musik dapat menembus batasan tren dan usia, selama lagunya mengena di hati rasanya semua lagu sah-sah saja dihadirkan dengan warna seperti apapun.

Seperempat abad bermusik tentu hal itu kemudian jadi sesuatu yang berbeda jika dibanding pertama kali mereka iseng buat ngeband di kampusnya dulu. Musik kemudian jadi hidup buat mereka yang ada di tubuh Naif, maka ketika salah satu atau mungkin semua personil Naif sudah merasa jika musik sudah bukan bagian dari hidupnya lagi, keputusan buat bubar jadi jalan yang terbaik. Alih-alih memaksakan bermusik hanya untuk menyenangkan penggemar, mereka memilih untuk ‘mematikan’ Naif. Namun seperti yang dikatakan David dalam pernyataannya, "Naif memang sudah tidak ada, namun karyanya masih ada". Tidak berlebihan rasanya jika Naif kemudian menjadi "Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia" dengan semua karya-karya yang berhasil menarik hati banyak orang. Karena bagaimanapun Naif "Selalu" ada dan satu-satunya.

“Dengan kalian dengar karya kami, kalian ingat kami, itu bikin kita hidup. Ada dalam hatimu. That's it. I love you all” – David Bayu

BACA JUGA - 'Supergrup' : Proyek Ambisius Gabungan Musisi ‘All Star’

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner