25 Tahun ‘Relikui’ EP : Deru Mesin Industrial SEL Format Kaset
Demo EP ‘Suci’ SEL; 'Relikui' yang Keramat
Makna relikui di KBBI: barang peninggalan orang suci yang dianggap berharga; benda-benda keramat.
'Relikui' adalah nama dari rilisan milik SEL tersebut. Mengartikan sesuatu yang dianggap berharga dan suci. 'Relikui' adalah EP keramat dan suci mereka.
Benda keramat milik para bahadur industrial dua puluh tahun silam itu kini dibangkitkan lagi. Relikui kenangan dari band industrial berbahaya yang berdiri pada akhir tahun 1990 itu sempat tertangguhkan paska merilis album Suara Sunyi.
Demo EP ini adalah pecahan-pecahan deru mesin yang paling fundamental bagi wajah skena musik alternative lokal saat itu. Penulis sedikit mengutip kata Dendy Darman, founder dari Unkl347 yang juga teman-teman nongkrong dari personil SEL dan saksi mata kala mereka menggarap demo, Dendy menulis dalam liner notes SEL Relikui EP sebagai berikut;
“ketika album demo mereka akan dirilis ulang Anoa Records terasa seperti reuni dan mengenang masa keemasan musik underground Bandung dan bisa diperkenalkan kepada yang belum tahu keberadaan SEL sebagai sebuah band bagus.”
Proses(i) penyelamatan serpihan materi yang berasal dari kaset asli, SEL melibatkan langsung Irama Nusantara melalui David Tarigan. Remastering dibantu Yehezkiel Tambun, bassis Sharesprings yang sebelumnya banyak membantu remastering materi-materi Sieve juga.
“Lega rasanya, ada banyak tangan dari pertemanan yang membantu kami,” kata Riza lagi mengutip dari siaran pers yang diterima redaksi.
“Kalau sekarang SEL merilis ulang album demo pertama plus dua lagu remix, kabar baik bagi dunia musik Indonesia, karena tampaknya para pendekar musik industrial ini mulai turun gunung.” – Leon KOIL (dikutip dari liner notes SEL RELIKUI EP – Anoa Records)
Album Demo EP Relikui berisikan 4 lagu plus 2 lagu Remix terbaru yang didedikasikan kepada mendiang vokalis mereka – Ademus. Single utama dari EP ini berjudul Liar Terbakar (OriginMix) yang direkam ulang oleh Makki dan Riza, dibantu Mega Dirgantara yang menjadi personil anyar SEL.
“Mega dulu punya band industrial keren juga, namanya Ralat. Sekarang SEL bertiga, dan sudah mulai membuat materi-materi terbaru,” kata Riza.
Dibentuk pada tahun 1996, di Bandung, SEL adalah salah satu dari tiga eksponen lain yang memainkan musik industrial bersama Syc Minded dan Koil kala itu. Ketika itu memang bisa dibilang SEL menjadi band lokal yang pertama kali merespon musik Industrial. Band ini sendiri lahir dari pertemanan dekat antara Riza (synth, keys) dan Ademus (vokal - almarhum) yang menyukai band-band industrial macam Nine Inch Nails, Ministry, dan sejenisnya. Radom (gitar) dan Makki (basis) kemudian bergabung tak lama kemudian.
Seperti yang sudah disebutkan di awal tulisan, selang tak lama SEL berdiri, mereka kemudian merilis sebuah Demo EP berisikan empat lagu yang direkam secara DIY, dibantu oleh lingkaran pertemanan. SEL merekamnya di kamar Makki meminjam Tascam 4 Track milik Ajo (Puppen, Cherry Bombshell, Silverglaze).
"Kaset demo SEL dicetak 100 keping. Kami sablon sleeve kaset sendiri, duplikasi kaset sendiri, plus ngelipetin cover kaset sendiri,” kata Makki.
Sesi rekaman demo EP awal dirampungkan selang waktu sebulan kemudian, SEL bereksperimen suara untuk drum, gitar, keyboard, vokal sampai sample. Mereka menjajaki sample unik mulai dari audio laser disc, suara api unggun, merekam suara di lokasi terminal, sampai suara desahan bintang porno termasyhur Tracy Lord.
“Rumah sudah kayak tempat singgah karena yang datang udah kayak nggak kenal waktu,” kata Makki.
Laiknya band-band indie ketika itu, SEL pun bergerilya untuk urusan distribusi kaset Demo EP mereka.
“Kami sempat distribusi kaset demo SEL di tokonya Ricard Mutter,” kata Riza yang baru saja merilis ulang album dari band lainnya, Sieve – Biara juga lewat Anoa Records. Dari 100 kaset, 50 keping dijual, 50 keping dibagikan gratis. SEL pun sampai harus menyatroni setiap terminal agar menemukan pendengar yang mereka incar.
“Kami bawa kaset di tas, naik angkot dari ujung ke ujung, sambil nungguin yang naik angkot dandanan metal atau punk. Lalu kami tanyain, “Udah pernah dengerin band ini?", sambil bilang ini kaset demo SEL dan kasih gratis buat didengerin. Kebanyakan apresiasi mereka saat itu bilang “waah nuhun nya ke urang dengekeun. band naon ieu teh. Metal?!” (terjemahannya “wah, terimakasih nanti saya dengerin yah, band apa ini Metal?!)," ungkap Makki yang masih bingung tapi takjub dengan semangat mereka ketika itu untuk mengenalkan musik SEL. Upaya yang layak diapresiasi, mengingat pada era itu teknologi komunikasi belum semudah seperti sekarang.
SEL meski menjadi eksponen musik mesin dari generasi lama, tidak menutup mata dengan pergerakan skena industrial dari band-band baru. SEL tetap mengamati dan berencana untuk mengajak sejumlah orang untuk berkolaborasi dalam musik SEL terbaru di tahun depan.
“Kami dengerin band-band baru macam Pullo, Asam, atau Asylum Uniform, damn they all magnificent dan berani mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran mereka dan kami pun tidak menutup pendengaran kami untuk mendengarkan scene lainnya,” tutup Makki.
Comments (0)