3 Lagu Folk yang Bisa Membuatmu Merinding

3 Lagu Folk yang Bisa Membuatmu Merinding

Apa yang bisa lebih indah dari harmoni enam senar berbeda yang menghasilkan bunyi dan sebuah nuansa? Ada suatu kesejukan di tengah carut marut cuaca yang panas, dengan typical orang yang mengeluh dan memaki setiap harinya. 

Padu padan deretan dawai/senar, yang bersinergi dan menghasilkan output sebuah suasana damai, yang dibunyikan beberapa musisi lewat lagunya. Bunyi dawai seolah jadi suara alam, seperti halnya gemercik air yang terjatuh, untuk menghapus lelah dan peluh, hasil kolaborasi pemikiran, perasaan, dan daya hayal, yang merupakan tiga dasar sebuah karya seni melalui dawai itu sendiri. Dan beberapa musisi berikut ini bisa menggambarkan dengan cukup baik, akan gambaran sebuah nuansa yang syahdu nan damai lewat senar gitar yang mereka mainkan.

Rusa Militan - Senandung Senja

Bagaimana mungkin petikan gitar klasik dari grup musik Rusa Militan, dengan lirik yang berbunyi “canda nada ceritanya tak luput dari telinga dan menggema, antarku melawan lelah”, tidak mengundang air mata untuk turun? Dari mulai tergambarnya masa-masa sok hebat khas anak muda, berseberangan dalam sebuah adu argumen panjang, sampai pada akhirnya tidak ada yang harus lebih dicintai selain dari orang yang membuat kita ada dan terlahir di dunia. Rusa Militan dengan lagu “Senandung Senja” adalah anthem dari sebuah titik balik, tentang apa dan untuk siapa kita terlahir. Selama air mata itu tidak jatuh untuk orang yang salah, maka biarkan saja itu mengalir, sebagai bentuk penghormatan untuk orang yang hanya satu level saja dibawah Tuhan.

Parahyena – Dibawah Rembulan

Lagu ini salah satu yang terbaik dari grup musik Parahyena. Kolaborasi suara gitar dan seruling ini cukup kuat membangun mood, yang berbanding lurus dengan gambaran rembulan dimalam yang sunyi. Namun dibalik kesunyian itu, tersimpan cerita-cerita menyenangkan dalam keakraban para sahabat terdekat, yang saling melempar senyum dan tawa, bergantian disela-sela cerita konyol perihal kenakalan remaja yang diingat, dan diceritakan kembali pada sebuah acara reuni sekolah misalnya.

Tiga pagi - Tangan Hampa Kaki Telanjang

Nuansa etnik dengan pemilihan notasi pentatonis yang dimainkan kelompok musik Tigapagi ini, seakan menegaskan jika lewat musiknya mereka tidak hanya sekedar berasumsi lewat permainan kata-kata dalam liriknya. Tapi lewat lagu berjudul “Tangan Hampa Kaki Telanjang” ini mereka benar-benar bisa menggambarkan sebuah narasi cerita, ketika tokoh utamanya berjalan menginjak kerikil dengan kaki telanjang, dan menggenggam pasir yang berjatuhan diantara celah tangan. Sebuah narasi cerita dengan interpretasi sebuah perjalanan ini, jika didengarkan dengan berkali-kali lewat sajian liriknya, seperti sebuah kegelisahan yang tetap terpelihara bersamaan dengan akal sehat, tanpa dibarengi serupa bipolar pada pikiran yang memudar, dan terpenjara dogma atau hal-hal lainnya yang memberhentikan sebuah perjalanan itu.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner