3 Lagu yang Mengulas Warna Sebagai Temanya
Menghubungkan tentang warna-warni tersebut ke dalam sebuah bangunan musik, yang secara filosofis dituangkan dalam bentuk lagu, yang mewakili isi atau pesan sebuah lagu.
Dilansir dari laman wikipedia, yang merunut pada disiplin ilmu seni rupa, warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya, dan dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Warna juga pada kesehariannya bisa diinterpretasikan beragam, dan setiap warna mampu memberikan kesan dan identitas tertentu, sesuai kondisi sosial pengamatnya. Misalnya warna putih akan memberi kesan suci dan dingin di daerah Barat, karena berasosiasi dengan salju. Sementara di kebanyakan negara Timur, warna putih memberi kesan kematian dan sangat menakutkan, karena berasosiasi dengan kain kafan.
Menghubungkan tentang warna-warni tersebut ke dalam sebuah bangunan musik, yang secara filosofis dituangkan dalam bentuk lagu, yang mewakili isi atau pesan sebuah lagu. Beberapa musisi/band cukup banyak yang memakai analogi warna untuk menggambarkan maksud dari lagu yang dibuatnya. DCDC membuat lima musisi/band yang memasukan unsur filosofis warna ke dalam lagu atau albumnya.
Twisterella – Rainbow
Lagu ini secara musik terdengar ear catchy, dengan pemilihan pola permainan gitar jungly, yang ditingkahi sound delay, reverb, dan sedikit chorus pada komposisi musiknya. Lirik dalam lagunya juga sesuai dengan pemilihan notasi pada vokalnya. Esensi warna pelangi yang digambarkan Twisterella dalam lagunya ini, sesuai dengan ekspektasi yang biasa orang gambarkan tentang pelangi, dengan semua image menyenangkan, sebagai simbol harapan setelah hujan. Pematahan lirik yang bisa begitu gampang melekat dikepala ketika lirik “see the red, green, and blue”, dinyanyikan dengan nada ringan yang menyenangkan. Sampai pada hook lagunya yang berbunyi “poor man survive pray god today”, dinyanyikan berulang-ulang sampai lagu ini selesai dimainkan.
Mocca – Colours
Mocca selalu hadir dengan konsep albumnya yang tematik, termasuk album ketiga mereka yang bertajuk Colours. Menariknya lagi album ini diperkuat dengan kemasan albumnya, yang dibuat sedemikian rupa menyerupai tempat pensil warna atau crayon. Secara tema lagu juga beragam, dan mewakili dari “warna-warni” kehidupan, dari mulai lagu yang bercerita tentang hubungan persahabatan di lagu “The Best Thing”, sampai lagu “You've Cheated On Me” yang berkisah tentang problematika asmara misalnya.
Dalam album ini juga Mocca berkolaborasi dengan musisi asal Swedia, Pelle Carlberg dari band Edson, dan selain itu Mocca juga berkolaborasi dengan choir “dadakan” yang diberi nama ‘Indiesiana Sapta Suara’, dan terdiri dari Dewi Lestari, Anto Arief (70s Orgasm Club), Bez (Olive Tree), El William (Vincent Vega), Ramdan (Burgerkill), Elang (Polyester Embassy), dan Rekti (The SIGIT). Tentu, dengan hadirnya banyak musisi tamu dalam album ini, makin menguatkan tema Colours yang dipakai Mocca, karena para musisi tamu yang hadir dari latar belakang musik yang berbeda, tentunya akan memberi warna baru juga dalam musik Mocca.
Efek Rumah Kaca – Sinestesia
Sinestesia bisa dbilang album masterpiece dari Efek Rumah Kaca, baik secara musik, lirik, maupun konsep yang sangat matang dalam album ini. Secara artiannya sendiri sinestesia bisa berarti sebuah situasi ketika merasakan atau mendengarkan sesuatu, yang kemudian ditangkap dan diinterpretasikan lewat aura sebuah warna. Ide tentang tema album ini datang dari bassis mereka, Adrian Yunan, yang seperi banyak orang ketahui, harus lama absen dari beberapa panggung Efek Rumah Kaca karena kondisi kesehatannya.
Adrian menjadi tokoh sentral dalam konsep album ini, walaupun kondisi kesehatannya terus menurun, namun tidak begitu dengan semangatnya. Adrian menangkap lagu-lagu yang dibuat di album ini dengan gambaran sebuah warna. Seperti misalnya di lagu berjudul “Ada” dan “Tiada”, yang ditangkap Adrian menjadi warna putih, karena warna itulah yang dia bayangkan ketika mendengarkan lagu itu.
Akhirnya karena hal itu pula, album ini punya konsep yang menarik, seperti pemilihan judul lagu-lagu yang dibuat menjadi dua sisi, sesuai warna yang ditangkap ketika mendengar lagu itu, seperti lagu “Putih” dengan dua sisi Ada dan Tiada, atau misalnya lagu “Biru” yang berkisah tentang Pasar Bisa Diciptakan, dan Cipta Bisa Dipasarkan. Begitu juga dengan keempat warna lainnya, dari total enam warna yang dijabarkan menjadi beberapa lagu dalam album ini.
Comments (0)