33 Tahun Jajan Rock, Tak Pernah Kusut Pita Kaset

Sebagian koleksi Hendro 'GS2C' | Foto: Franco Londah
Hendro 'GS2C' tidak sendiri. Sahabat karibnya yang fanatik The Police sering berburu pita bersama. "Namanya Anthony Nurdjaman, teman dekat pas SMP. Dia sukanya The Police, tapi keracunin lama-lama, jadi senang yang heavy-heavy, karena sering hunting bareng, tukar info musik, diskusi soal musik. Kemana-mana berdua. Akhirnya, dia ikutan senang musik Maiden (tertawa)," terang Hendro, ditemui di rumahnya, Jalan Gandapura Simpang No. 2, sebuah akronim asal nama dari usahanya jual beli rilisan fisik, GS2C.
Sebagai seorang kolektor item, tentu memiliki memori kuat tentang pembelian pertama pita kaset. Kenangannya akan hal itu seperti ini: "Kalau yang pertama sih lupa. Dulu, banyak yang dibeli. Paling diingat albumnya Iron Maiden, Killers. Rekamannya (dibeli di) Rockshot, di Parahyangan Plaza lantai satu seharga 2.250 rupiah," ketika ditanya rilisan pita kaset pertama yang dibeli. "Sisihkan dari uang jajan pas SMP, setelah kekumpul beberapa hari, baru biasanya hunting. Di Starsound musiknya cadas semua," ujar penggila heavy metal, death metal, grindcore, thrash metal dan hardrock ini.
Hampir lebih dari tiga dasawarsa Hendro 'GS2C' "tak pernah kusut" berburu pita kaset. Artinya, beliau belum berhenti dan masih tetap melakukan aktivitas ini dengan segenap hati. Istilah jajan rock yang dipakai menjadi judul awal artikel ini merujuk pada trilogi mini album dari salah satu veteran musik alternatif asal Jakarta; Harlan Boer, sebelum akhirnya menyebar di kalangan penggiat kolektor fisik.
"Jajan Rock" versi Hendro 'GS2C' sendiri sudah berjalan sejak beliau menjajaki Sekolah Menengah Pertama. Kisah Hendro akan berlanjut di artikel selanjutnya!
Comments (0)