440Hz Atau 432 Hz? – Perdebatan Tiada Akhir Perihal Standar Tuning Alat Musik

440Hz Atau 432 Hz? – Perdebatan Tiada Akhir Perihal Standar Tuning Alat Musik

Di Amerika Serikat, frekuensi 440 hertz dijadikan standar, karena itu merupakan frekuensi terbaik untuk ruangan konser. Sedangkan di Inggris, alat yang ditempa khusus sesuai tuning 440 hertz (dari pabriknya), dianggap optimal dalam pemanasan alat musik – terutama alat musik tiup kayu, agar lebih tahan lama dan terhindar dari lembap atau karat (khusus yang berbahan besi).

Terlepas dari kekhawatiran politik dan komersial, perdebatan tunning juga berpusat pada klaim, bahwa vibrasi 432 hertz bermanfaat bagi tubuh manusia. Efeknya juga positif terhadap partikel air, sehingga dianggap bisa menyembuhkan beberapa kerusakan sel pada tubuh.

Dalam sudut pandang ilmu cymatics, riset teknologi terbaru membuktikan gelombang 432 hertz mampu membuat suara lebih ‘terlihat’. John Stuart Reid mengembangkan alat yang disebut CymaScope. Alat ini diujicobakan terhadap air. Hasilnya, 432 hertz muncul dalam formasi lebih indah.

(sumber foto: Joshua Seymour’s Getty Images)

Klaim lain muncul dengan statemen astronomi yang unik. Ada yang beranggapan, digit angka 432 merupakan akar kuadrat dari kecepatan cahaya. Secara sains, akar kuadrat kecepatan cahaya adalah sekitar 431,6 – bila dibulatkan dekat dengan 432. Belum lagi anggapan unik yang menjabarkan bahwa diameter Matahari sekitar 864.000 mil, itu sama dengan 2 x 432.000 mil. Diameter bulan sekitar 2.160 mil, sama dengan 4.320 dibagi dua.

Tampaknya, angka 432 sangat penting dan menyimbolkan banyak misteri lain. Bahkan, Ivan Yanakiev (konduktor orkestra asal Bulgaria) sengaja mendirikan grup 432 Orchestra pada tahun 2013, untuk menyebarkan getaran 432 hertz ke seluruh dunia. Hal ini disebabkan Yanakiev tersentuh saat mendengar seorang pemain cello dalam timnya memainkan lagu klasik “Cello Suite no.1 at G major” (karya Sebastian Bach) dengan tala 432 hertz. Yanakiev merasakan nada itu tak hanya brilian untuk menggetarkan seisi ruangan, namun seolah membuat cahaya dalam dirinya mengalir secara alamiah.

Sumber lain, Epoch Times, mengatakan bahwa musisi kuno dari peradaban Yunani dan Mesir, telah menyetem instrumen mereka pada frekuensi 432 hertz. Konsep ini dibawa ke Yunani sejak zaman Nabi Daud dan Sulaiman, dan kembali ke Mesir pada akhir era Nabi Yakub. Itulah mengapa, ‘KUNDALINI FREQUENCY’ diidentikkan pula dengan musik meditasi para Ulama Sufi zaman dahulu.

BACA JUGA - Jika Kamu Merinding Saat Mendengarkan Musik, Bisa Jadi Kamu Punya 'Sense' Istimewa

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner