5 Cover Album Berjubah Milik Band Lokal

5 Cover Album Berjubah Milik Band Lokal

Kehadiran cover album/sampul album dalam menghiasi tampilan depan karya fisik para musisi. Merupakan aspek penting dalam menerjamahkan konsep musik, yang jika mungkin beberapa materi musik susah tersirat lewat materi, namun kehadiran cover album juga dapat dijadikan alternative dalam menerjemahkan isi seluruh materi secara keseluruhan. Namun ternyata, beberapa cover album milik musisi lokal memiliki kesamaan antara satu dan lainnya, seperti salah satunya penggunaan jubah.

Berikut 5 daftar tampilan sampul album 5 band lokal yang menggunakan jubah :

 

The Sigit (Detourn)

Merupakan album kedua setelah Visible Idea Of Perfection (2006) yang dirilis oleh The Sigit, yang dirilis oleh FFWD dalam bentuk CD dan kaset pita untuk album keduanya bertajuk Detourn (2013). Cover album yang merupakan karya dari Refantho Ramadhan ini, menggunakan beberapa sosok berjubah yang menggunakan topi berupa Druid, yang merupakan karakter dalam mitologi Cecltic. Sosok Druid tersebut tergambarkan sedang berdiri di hamparan padang rumput luas, sebanyak 4 orang yang juga merupakan 4 personil The Sigit berupa Rektivianto Yoewono, Farri Icksan Wibisana, Donar Armando Ekana, dan Aditya Bagja Mulyana.

 

Barasuara (Taifun)

Salah satu album perdana band asal Jakarta, Barasuara bertajuk Taifun (2015) dirilis dalam format CD, juga menggunakan sosok jubah. Karya foto yang dikerjakan oleh seorang wanita Rewinda Omar menjadi penghias untuk tampilan visualnya dengan teknik hitam putih. Dalam cover album Barasuara yang digawangi oleh Iga Massardi (vokal), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bass), Marco Steffiano (drum), Asteriska Widiantini (vokal) dan Puti Chitara (vokal), tergambar tampak sosok lelaki sedang berada dihamparan luas yang diterpa oleh angina sehinga jubah hitamnya berkibar. Rewinda Omar memang dikenal salah seorang fotografer yang berkarakter, sesuai dengan musik Barasuara yang kental menggunakan penggalan lirik Bahasa Indonesia implisit atau sastrawi.

 

Ghaust (Burning All The Gold)

Bersatus kini yang terhitung bubar duo unit post-metal asal Jakarta, Ghaust. Pada perilisan kedua setelah album bertajuk Burning All The Gold (2016) dalam format CD menggunakan cover album dedaunan, yang beralih ke kaset pita dengan tampilan visual sosok berjubah hitam. Pada pengerjaan untuk album terakhir Ghaust yang digawangi oleh Urie A. Putra (gitar) dan Alm. Margino Edward (drum), juga dikerjakan oleh wanita bernama Rewinda Omar. Beberapa sosok berjubah hitam yang terdapat di hamparan luas berwarna hitam putih, merupakan karya lama milik Rewinda Omar yang kini menjadi album untuk rilisan terakhir dari Ghaust.

 

Jeruji (Stay True)

Berbeda dibandingkan cover album musisi lainnya, walau menggunakan jubah hitam. Jeruji yang terakhir merilis album ke-5 nya bertajuk Stay True (2016) juga menggunakan sosok jubah hitam untuk tampilan albumnya. Sosok berjubah hitam yang menjadi tampilan cover album untuk Jeruji, terlihat sedang jongkok sambil memegang bendera hitam. Sosok berjubah hitam untuk cover album Jeruji ini juga mengenakan vest ala punk selain jubah hitam dibalik dinding batu bata putih, berwarna hitam putih. Cocok untuk musik Hardcore Beatdown yang kini digawangi oleh Ginan (voc), Andre (gitar), Pengex (bass) dan Sani (drum), yang dirilis resmi dibawah bendera Grimloc Records dan Monster Records.

 

Hurt’Em (Condolance)

Unit Grindcore yang baru saja dirilis dibawah bendera Lawless Records, bertajuk Condolance (2016) dari Hurt’Em. Karya yang juga dikerjakan oleh Rewinda Omar ini juga menggunakan sosok berjubah hitam sebagai penghias album perdana milik Hurt’Em. Sosok berjubah hitam yang terliaht seperti layaknya hantu ini pun, seakan mewakili musik yang dimainkan oleh unit terdiri dari Epan (bass), Oces (drum), dan Chuky (gitar), yang kental dengan kecepatan dalam tempo hingga dentuman keras ala Hardcore Punknya.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner