60 Hours, Jakarta Chaotic/Mathcore

60 Hours, Jakarta Chaotic/Mathcore

Terbentuk bulan juni tahun 2006 di Jakarta, dengan personil; Dhemo Anugerah Putra sebagai gitar sekaligus vokalis, Dimas Pramuda Putra di drum, Yudi Rian Saputra sebagai gitar, dan Anggi pada Bass. Pada awalnya mereka bermain-main dengan aliran Metalcore, belum memiliki lagu sendir, sampai nama band pun belum ada. Hanya sekedar bermain musik yang mereka sukai saja.

Empat pemuda ini sering membawakan lagu seperti; As I Lay Dying, Ateryu, Alexisonfire, Avenged Sevenfold, Step Forward, Killswitch Engage, dan lain lain. Dari salah satu band yang disebut sebagai inspirasi bermusik mereka, tercetuslah sebuah nama dari judul lagu, 94 Hours tembang dari As I Lay Dying. karena salah satu personil ada yang mempunyai usul untuk menggunakan angka 60, mereka sepakat untuk menamakan grup musik dengan 60 Hours.

Di tahun 2007 akhir 60 Hours sempat ditinggal sang bassis, Anggi. Pada tahun 2008 mereka vakum ketika Dimas dan Dhemo pindah tempat tinggal disusul Yudi.  Masa-masa itu terbilang kelam, dan akhirnya di tahun 2009 kuartet chaotic 60 Hours terbentuk kembali karena niat ingin meneruskan dengan personil; Dhemo Anugerah Putra (gitar/vokal), Dimas Pramuda Putra (drum), Yoga (gitar), dan Hilman (bass). Semenjak formasi itu ada, mereka mulai membuat lagu dan terciptalah satu buah lagu yang berjudul "Get Up Scream". Sempat manggung-manggung di Cafe atau gigs-gigs minor bahkan di Kelurahan. So Unique!

Akhirnya tahun 2010 Hilman keluar, dan menarik bassis baru, Ridwan, sempat manggung di TangThing (Tangerang Clothing) bersama Ridwan, namun belum ada satu bulan, Ridwan terpaksa keluar karena ada sedikit masalah. Tersisa; Dhemo, Dimas dan Yoga.  Sampai mereka bertemu dengan, Danny Rezky Ramadhan teman dari Dimas. Semenjak itu mereka giat dan melahirkan beberap karya seperti, “Get Up Scream”, “Come With My Bitch” dan “Emosi Raga”. Bisa dibilang, dari materi lagu-lagu diatas, mereka sudah tidak betah lagi membawakan hawa metalcore, ada usulan dan berniat pindah jalur ke mathcore, tapi urung dilakukan karena faktor personil yang terbatas kemampuannya , metalcore tetap menjadi pilihan terbaik mereka.

Tahun 2010 Yoga dikeluarkan dari 60 Hours, masalh internal menjadi pemecut keluarnya Yoga. Beberapa minggu setelah Yoga keluar, bertemulah mereka dengan Yudi (mantan gitaris mereka dulu) dan mengajak Yudi untuk bergabung kembali dengan 60 Hours, jadi yang menggantikan posisi Yoga saat itu adalah Yudi. Hal yang terlupakan adalah ketika Dhemo membutuhkan vokalis baru, diajaklah Racka Wibawa, saudara dari Dhemo dan Dimas untuk bergabung. Selang waktu satu tahun, tepatnya di tahun 2011 Danny menyusul keluar. Di tahun ini juga, kawan dari Racka, yang lihai bermain gitar juga bass bernama Rama Rullyan mengisi posisi Danny. Formasi mulai membaik, dengan skill yang berkembang, ditambah pengetahuan dan pendewasaan dalam bermusik 60 Hours berganti haluan  menjadi mathcore. Inilah yang diinginkan mereka sedari dulu.

Everytime I Die, The Number 12 Looks Like You, Gallows, The Jonbenet, Converge, Architects dan The Dillinger Escape Plan adalah jajaran ‘pahlawan’ mathcore bagi mereka. Campuran sound chaotic hardcore, mathcore, hingga southern rock groovy yang ‘rasis’ diaduk menjadi satu padu dalam musikalitas mereka.
 

Dari segi penulisan lirik, 60 Hours secara tegas tertuju ke politik dengan lika-liku kehidupan sehari-hari, juga tentang “Ormas Ormas Berjubah”. Pencapaian terbaik yang 60 Hours dapat, ketika mereka menjadi 10 besar finalis pada gelaran yang dibuat oleh Djarum Coklat yakni event Bhineka Tunggal Ika, di Bulungan, Jakarta. Terburuknya, 60 Hours pernah diteriaki “salah panggung” di perhelatan Road To Hammersonic tahun 2013 lalu.?!

Contact:

www.facebook.com/60HOURSJKT

www.twitter.com/60HOURSJKT

www.60hours,tumblr.com

www.soundcloud.com/60HOURSJKT

www.reverbnation.com/sixtyhours

Oleh: Karel

Foto: 60 Hours Docs.
 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner