A Page About : Ketika Forgotten Bicara Cinta

A Page About : Ketika Forgotten Bicara Cinta

Jika menurut band Efek Rumah Kaca, jatuh cinta itu biasa saja, maka menurut Forgotten, cinta dimaknai jadi sesuatu yang chaos, dimana merah muda dan kata mutiara dimentahkan begitu saja oleh band ini.

Bicara tentang band dengan muatan lirik yang berani, Forgotten mungkin menjadi band yang paling diperhitungkan, ketika band ini mampu meramu lirik yang terbilang frontal ke dalam isian lagu-lagunya. Lagu-lagu semisal “Tuhan Telah Mati”, atau “Selangkangan Agama”, secara estetika dan isiannya, menjadi lagu dengan hujan kritik yang berani, karena banyak bermain diranah sensitif, perihal hal-hal dogmatis, yang berkembang di masyarakat Indonesia pada umumnya. Bahkan ketika mereka bicara cinta pun, mereka punya sudut pandang yang berbeda lewat padanan lirik “nyatakan cinta dengan lemparan batu”, di lagu mereka yang berjudul “Aku Jatuh Cinta”.

Jika menurut band Efek Rumah Kaca, jatuh cinta itu biasa saja, maka menurut Forgotten, cinta dimaknai jadi sesuatu yang chaos, dimana dia lahir dari segala bentuk kamuflase hal-hal material, yang dalam hal ini mereka analogikan lewat gambaran mobil yang mewah dan rumah yang megah. Berhala yang kemudian membentuk tuhan-tuhan baru, yang secara terang benderang dihantam lewat suara parau Addy Gembel, kala dia meneriakan tuhan telah mati dalam lagu Forgotten.

Cinta yang dipandang dari sisi gelap, dimana warna merah muda dan kata mutiara, yang biasa hadir jadi padanan ketika berbicara cinta, dimentahkan oleh Forgotten, lewat lirik “aku jatuh cinta, pada penjarahan. Aku jatuh cinta, pada pembakaran”. Metafor seperti itu seakan menjadi signature seorang Addy Gembel, sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas lirik-lirik yang ada di lagu Forgotten. Menurutnya, band ini menjadi sarana dia menyalurkan energi negatifnya lewat lirik-lirik yang dia tulis, untuk kemudian bersinergi dengan komposisi musik yang personil lain buat. Sampai akhirnya menghasilkan repertoar lagu dengan kadar tamparan yang kuat, membangunkan banyak orang yang terlena dengan sebuah mimpi utopis yang dia reka. Karena sejatinya hidup tidak selalu baik-baik saja.

Cinta dalam sudut pandang band Forgotten adalah kamuflase belaka, dimana benci dan dendam terasa lebih nyata, jika dihadapkan pada banyaknya hal tidak beres yang terjadi di negeri ini. Mereka merasa cinta yang selama ini tergambar dari lirik-lirik puitis para pujangga menjadi nir makna, ketika artiannya hanya diartikan dari sisi dua orang yang bertukar kata mutiara saja. Forgotten menamparnya dengan kenyataan pahit, jika ada “berjuta lambung yang perih, dan berderet budaya kumuh. Berserak ceceran berak, untuk mengasah belati perak”. Yang merupakan gambaran dari orang-orang yang tidak tersentuh cinta dari yang empunya negara. Maka pertanyaan besarnya adalah, masih perlukah kita merayakan jatuh cinta? Ketika cinta nyatanya tidak hadir disudut-sudut gang sempit penuh dilema, besok makan apa?

BACA JUGA - A Page About: Tuhan yang Seperti Apa yang Seharusnya Mati?

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner