A Page About : Menerjemahkan Gelagat Bunyi Instrumentalia Murphy Radio
Musik Math-rock dibentuk berdasar ruang imaji yang dibangun atas komposisi musik, yang kemudian diterjemahkan pendengarnya menjadi tafsir yang beragam
Sebuah lagu bisa punya makna yang dalam, lewat padanan lirik yang menghubungkan perasaan antara musisi dan pendengarnya. Namun bagaimana jika musik itu tidak mempunyai lirik sebagai sarana untuk menguatkan isiannya? Pola seperti ini biasanya dibentuk berdasar ruang imaji yang dibangun atas komposisi musik, yang kemudian diterjemahkan pendengarnya menjadi tafsir yang beragam. Musik instrumentalia semacam ini dulu bisa ditemui pada musik-musik klasik, dengan dinamika ragam string section seperti biola dan cello, ataupun suara renyah dari petikan ansambel gitar klasik.
Namun dalam perkembangannya musik instrumentalia ini jadi terbagi dalam beberapa sub genre, dari mulai post-rock sampai math-rock, yang menitikberatkan pada pola musik dengan patahan lick-lick gitar yang memberi ambience tersendiri, membentuk ruang pada bangunan komposisi musiknya. Hal ini pula lah yang saya temui di band bernama Murphy Radio. Sekilas musik yang mereka hasilkan mengingatkan saya dengan grup musik asal Jepang Toe, terutama dari segi sound gitar dan pola ketukan drumnya.
Lagu mereka yang berjudul “Sports between Trenches” adalah awal perkenalan saya dengan mereka. Cukup terlambat memang saya mengenal mereka, mengingat mereka sudah terbentuk pada tahun 2013 silam. Murphy Radio dengan segala kemampuan bermusiknya yang cukup baik, punya senjata andalannya bernama Wendra, yang menurut saya menjadi pembeda diantara band-band yang mengusung genre serupa. Wendra hadir dengan teknik taping dalam permainan gitarnya. Ini menarik perhatian saya, yang sebelumnya sering merasa bosan dengan teknik taping seperti itu, lewat parade dewa gitar dengan pola arpeggio, yang menurut saya terasa datar, hanya berupa pamer skill tanpa kesan yang membekas.
Comments (0)