A Page About : Menyimak Kembali Apa Yang Dipersembahkan Oleh Rock N Roll Mafia Di Album ‘Prodigal’
Secara sudut pandang pribadi, ‘Prodigal’ seperti mesin waktu yang membawa saya seperti menyusuri kembali beberapa band indie rock luar negeri pada jaman SMA dulu
Ada yang mengatakan, bahwa jika sebuah band telah mampu bertahan lebih dari 10 tahun bermusik, maka perannya di kancah industry kreatif telah mumpuni dan cukup baik. Begitu pun dengan Rock N Roll Mafia yang telah melampaui keterbatasan dalam bermusik di era awal kemunculannya sebagai band elektronik yang ditandai lewat kemunculan karya musik pertamanya berupa EP di tahun 2002. Setelah dirilisnya karya pertama itu, RNRM (rock n roll mafia) terus-menerus merilis album demi album dengan fase serta nuansa musik yang berbeda-beda, seperti Prodigal misalnya.
Sebenarnya, bagi saya pribadi terbilang lambat untuk mengetahui album yang sampul depannya bergambarkan satu hewan unggas itu. Tak luput dengan bandnya. Bagi saya, album Prodigal, adalah seperti mesin waktu yang membawa saya menyusuri kembali lagu-lagu dari beberapa grup indie rock yang sering say dengarkan pada masa SMA dulu tahun 2009'an. Tepatnya ada tiga grup musik yang saya sangkutpautkan disini, mereka adalah kelompok bernama : The Rapture, Klaxons, dan Two Door Cinema Club. Entah kenapa, tiga band itu selalu berputar dikepala saya, ketika musik dari album Prodigal masuk di kedua gendang telinga saya. Dan maaf jika tak sesuai, mungkin karena memang pengetahuan saya tak sejalan dengan persepsi kalian.
Dari tiga band yang telah saya sebutkan itu, mungkin diantaranya – bahkan ketiganya, bukan kelompok musing asing lagi bagi beberapa orang dari beberapa lagu andalannya. Dari ketiga band tersebut, sebenarnya hampir tak ada unsur elektornik yang kentara bahkan mendominasi layaknya keseluruhan album Prodigal. Tapi, masih ada satu benang merah kalau menurut saya. Misalkan seperti lagu RNRM berjudul “Never Give Up” dengan “Golden Skans”, memiliki satu nuansa dan semagat yang serupa tapi tak sama. Mulai dari petikan bass, suara ketukan drum, atau tempo musiknya yang up beat sekalipun ada kesamaan dari dua band berbeda negara ini. Nggak cuma sebatas itu aja, beberapa lagu lain pun juga demikian halnya.
Kayak misalkan lagi di awal lagu “Glamorous” punya RNRM, mirip seperti awalan lagunya “Echoes” milik The Rapture. Cuma yang bedainnya adalah dari segi kemasan musiknya saja, kalau RNRM lebih cenderung ke alat-alat elektronik, sedangkan The Rapture memainkannya dengan full band dan banyak mengadopsi distorsi tebal semacam shoegazing. Kurang lebih seperti ini itulah gamabran saya mengenai karya musik RNRM. Dan disatu sisi menurut saya band ini memang telah menggebrak pada awal kemunculannya, ditengah masifnya pasar major label – sampai saat ini mereka masih bisa bertahan dalam memproduktifitaskan musiknya, bahkan terus berinovasi. Tentunya gebrakan itu semua dilakukan oleh dua sosok didalamnya, bernama Eky Darmawan (vokal) dan Hendra Jaya Putra (keyboard/synth/programming).
Inovasi dari karya RNRM, beberapa waktu juga muncul. Tepatnya, karya single berjudul “Body Won’t Stop” dimunculkan pasca RNRM vakum. Dan lewat karya musik – video klip terbarunya itu RNRM mengatakan bahwa karya tersebut adalah sebuah bentuk peralihan dari fase kehidupan para personilnya yang tak lagi berumur muda seperti dulu. Lebih tepatnya, Childish.
Sumber foto : Instagram RNRM dan di retouch oleh Alfie Fadhlan
Comments (0)