A Page About: Awal Berjumpa dengan Pengusung Pop Lawas Ibukota
Kala itu, tak ada yang sebaik Bangkutaman dalam memodernisasi musik pop ala Madchester.
Di sekitar tahun 2008, saya mendapat rekomendasi dari kakak lelaki saya mengenai sebuah band lawas asal Inggris bernama The Stone Roses lewat cakram padat non-orisinil. Layaknya sebuah mix-tape, beberapa nama band tercantum di dalamnya dan salah satu nama dari grup musik besutan Ian Brown, The Stone Roses ada di sana dengan lagu yang berjudul “Made of Stone”.
Jujur saja, ketika pertama kali mendengar materi musik pop dengan sentuhan gelap itu, saya langsung terbuai dan mendengarkannya berulang kali. Walau cukup terlambat bagi saya untuk menikmati lagu yang dirilis pada akhir '80an itu, saya masih bisa berkata bahwa saya beruntung. Karena, tidak semua teman saya mengetahui materi dari The Stone Roses atau bandnya sekalipun. Saya beruntung bisa mengetahui grup musik The Stone Roses waktu itu.
Selama masa kuliah di Bandung, berbagai grup musik yang dulunya belum pernah saya saksikan dapat dengan mudah ditonton disana. Salah satu yang paling saya ingat adalah Bangkutaman. Berbekal pengetahuan musik yang sangat minim, saya merasa Bangkutaman membawakan nuansa musik yang serupa seperti musik yang saya nikmati kala duduk di bangku SMA, The Stone Roses.
Hal ini saya rasakan di pertengahan tahun 2014. Kejadiannya pun tak jauh berbeda seperti awal mula mendengar materi The Stone Roses. Bedanya, saya menemukan Bangkutaman melalui linimasa yang dibagikan oleh seorang rekan dengan lagunya “Catch Me When I Fall”. Ternyata, Bangkutaman telah memainkan musik seperti sejak tahun '90an. Seperti menemukan harta karun terpendam, Bangkutaman menghantui pikiran saya waktu itu dengan lagu-lagu lawasnya.
Saya berujar dalam hati, "kemana saja saya selama ini?". Tapi, mungkin ini adalah hal yang cukup wajar. Saya berasal dari Aceh, tempat yang cukup jauh dari Bandung yang disebut-sebut sebagai salah satu kota dengan pasokan musik tanpa henti. Ketika saya baru tahu The Stone Roses kemudian Bangkutaman setelah beberapa tahun lamanya, sepertinya bisa dimaklumi.
Kedua band itu jelas mempunyai kesamaan, baik dari shacking gitar neo-psychedelia, atau petikan bass tebal sebagai ciri khasnya masing-masing. Namun ada satu nilai yang lain, yaitu ciri khas.
Comments (0)