A Page About: Banda Neira dan Resensi Penawar Rindu

A Page About: Banda Neira dan Resensi Penawar Rindu

Diperkenalkan pada Banda Neira melalui "Berjalan Lebih Jauh", hingga akhirnya lagu ini menjadi representasi alur dari hari ke hari.

Mendengar kembali lagu “Berjalan Lebih Jauh” dari band yang tahun kemarin memutuskan bubar, Banda Neira. Beberapa penggemarnya, termasuk saya, seperti tidak rela dengan keputusan mereka bubar, karena rasanya masih ingin melihat pertunjukan mereka dari panggung ke panggung. Tapi apa boleh buat, keputusan mereka sudah bulat. Satu-satunya cara menghadirkan kembali keberadaan mereka adalah dengan memutar kembali lagunya, dan yang saya pilih adalah lagu “Berjalan Lebih Jauh” ini.

Lagu ini adalah perkenalan saya dengan Banda Neira. Sebuah lagu yang saya ibaratkan seperti berada pada suatu keadaan ketika kenyamanan tentang rumah harus terelakan dengan keharusan keluar dari rumah. Keadaan yang tidak saya sukai, karena rumah terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Tapi, kiranya terlalu lama merasa nyaman di zona aman tidak baik juga ternyata. Untuk mencoba membuka pintu dan berjalan keluar selalu tak semudah bicaranya. Namun, semoga saja matahari cukup hangat untuk bisa membuat mimpi menapaki jalannya. Menapaki hari, ketika saya harus keluar rumah.

Tentang dunia luar itu sendiri, benar saja, jika di luar itu panas dan berdebu. Mematahkan teori lotion pemutih anti matahari seperti dalam iklan di televisi. Karena usang adalah nyata adanya, ketika saya tidak berada di titik nyaman senderan kursi empuk sebuah mobil mewah.

Maka, mulailah saya dengan panas, debu dan peluh. Terjebak di antara banyaknya tipikal orang yang memaki juga bunyi klakson. Situasi itu semakin mempertegas carut marut sebuah potret negara besar yang susah diatur, karena mungkin setiap orangnya menganut paham ideologi nol besar, di mana ego tiap orang adalah tuan bagi dirinya.

BACA JUGA - Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti, Selamat Tinggal Banda Neira!

Dengan berbagai pemikiran yang mengudara, bersama asap knalpot hitam yang mengotori langit biru, tak terasa ternyata hari sudah sore, menghadirkan gradasi sendu dan cahaya yang sayu. Sayang sekali, tidak ada obrolan ringan dan teh hangat, apalagi taman dan nyanyian innocent dari siapapun yang menyukai folk. Terlalu ideal mungkin, jadi Tuhan tidak suka. Karena kan menurutnya ideal itu Surga, dan Surga adanya nanti. Ini masih sore, belum akhir dari hari. Masih ada malam dan larut malam. Bermimpi saja dulu, siapa tahu itu jalan menuju tidur panjang.

Sampai kemudian, sore menjadi basah karena hujan, ketika hujan membasuh peluh dengan teduh. Aroma debu yang tercium setelah tersapu hujan sore ini begitu melegakan. Istirahat sejenak setelah sekian lama bergelut dengan panas dan hantaman debu terhadap peluh. Meredakan semua ketakutan terhadap panas yang menghantam raga, ketika raga sering dijadikan tameng atas hati yang rapuh. Meneduhkan emosi atas banyaknya kata maki yang terucap di kala siang, panas, dan macet. Ketika sebuah jawaban akan kerinduan yang berkata betapa teduh itu menyenangkan. Menyajikan sendu dengan irama keroncong dari perut yang sebenarnya sudah makan, tapi mungkin karena hujan, jadi lapar lagi. Mungkin bisa jadi bahan skripsi dengan judul “Korelasi Hujan dan Perut yang Gampang Lapar”.  

15.51, seperti biasa, ketika sebelumnya Tuhan Maha Besar dikumandangkan oleh suara parau sang Muadzin. Setidaknya, itu lebih baik dibanding ingatan yang parau. Selalu resah oleh gundah, yang seharusnya tidak. Sampai sore berganti malam, lalu malam berganti pagi dengan ekspektasi, dan berujung pada pertanyaan tentang kebaikan absolut, yang tak juga menghadirkan artiannya jadi sesuatu yang nampak, serta menjadi ruang lingkup nalar yang berusaha untuk menjawabnya.

Harapan yang terpatahkan dan keinginan yang tak sesuai dengan garis hidup. Kemenangan atas kebesaran hati, dan kekalahan akan sebuah hasrat pada satu jam bersamaan dalam renungan, yang menghadirkan pertanyaan “akankah mereka kembali bernyanyi?”, setelah berjalan lebih jauh, dan menyelam lebih dalam? 

Sumber Foto: http://dibandaneira.tumblr.com

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner