A Page About: Forgotten, Pembajak Perhatian Industri Musik Ekstrim
Foto diambil dari akun Instagram Forgotten (@forgotten_official)
Meski menghilang selama beberapa tahun, Forgotten masih mampu menguasai pasar.
Jika (katanya) nama adalah sebuah doa, maka kalimat itu menjadi tidak valid karena band ini. Dalam bahasa Indonesia, Forgotten berarti dilupakan. Nyatanya, mereka tidak pernah menjadi benar-benar hilang dari ingatan meski absen selama enam tahun pasca rilisan terakhirnya, Laras Perlaya. Ketika Forgotten kembali muncul di penghujung tahun 2017 dengan album terbaru, Kaliyuga, mereka langsung mencuri bahkan menguasai perhatian pasar.
Saya ingat ketika Kaliyuga dirilis secara resmi, banyak orang yang berada dalam lingkar musik bawah tanah berlomba menjadi seseorang yang paling paham, paling terdepan, atau “paling Forgotten”. Hampir semua format komunikasi menjadi “milik” Forgotten. Lebih spesifik, mendadak Addy Gembel menjadi “dewa yang (kembali) disembah” banyak penggiat musik cadas, terlebih yang menggilai literasi bernada sarkas untuk digubah dalam bentuk lirik.
Pada kenyataannya, Forgotten memang sebuah entitas penting dalam pertumbuhan ranah musik bawah tanah, terutama di kota Bandung sejak tahun ‘90an. Mereka seolah menjadi pionir yang memaparkan standarisasi frontal dan menjadi sebuah band yang menyadarkan bahwa adalah tidak apa-apa untuk memiliki pandangan dan pola pikir sendiri, dalam hasil akhir membangun karakter band itu sendiri. Dengan segala bentuk keterbatasan saya dalam pengetahuan di dunia musik, saya bisa katakan bahwa saya tidak bisa menemukan band lain yang serupa dengan Forgotten, untuk dianalogikan atau dikira-kira sebagai referensi. Mereka seolah menciptakan jalurnya sendiri.
Saya membayangkan jika produktivitas mereka lebih gencar dibanding apa yang mereka lakukan hari ini. Bisa jadi, industri musik ekstrim dibabat habis oleh mereka. Sepertinya, memang ada baiknya mereka sempat meredup. Mereka bisa jadi gerbang tinggi di sekeliling ruang regenerasi yang mengharuskan band-band baru memanjat dengan energi ekstra demi melampaui titik temu antara band dan industri musik. Seharusnya, Forgotten sudah bermain di ranah yang lebih luas. Forgotten seharusnya sudah menjadi milik dunia.
Maka, akhirnya saya rasa menjadi wajar jika banyak band yang kemudian memilih Forgotten sebagai kiblat. Dan juga wajar jika Forgotten menjadi penakluk pasar di kala mereka kembali bangun dari tidurnya. Kata Forgotten akhirnya menjadi artifisial, berbanding terbalik dengan keadaan yang ditangkap kenyataan. Forgotten tidak mungkin dan tidak boleh dilupakan.
Comments (0)