A Page About: Melewati Pagi Hari Bersama Themilo
Bersama musik yang mengalun dengan sendu, “Daun dan Ranting Menuju Surga” menjadi teman di pagi yang dingin dan sunyi.
Setelah mengetahui beberapa waktu lalu salah satu grup shoegaze kenamaan Bandung akan mengeluarkan rilisan langkanya, seketika terbesit di pikiran untuk mengenang lagu hits dari grup musik yang dimotori oleh Ajie Gergaji. Sebuah lagu dari Themilo berjudul “Daun dan Ranting Menuju Surga” di pagi hari yang dingin memang pasangan yang tepat, bahkan terlalu tepat. Lagu ini terdapat di album Photograph, yang dirilis pada tahun 2011 silam.
Selain karena rilisan terbaru, belakangan ini saya menyelami kembali perkembangan musik shoegaze yang dirunut dari awal mula kemunculannya sampai popular saat ini. Bermodal dunia maya, saya terjerumus dan diperkenalkan dengan beberapa komplotan shoegazer era '80an, seperti Cocteau Twins, Jesus and Mary Chain, My Bloody Valentine, hingga sebuah film dokumenter yang mengulas lebih komplit mengenai perjalanan musik bising nan manis berjudul “Beautiful Noise" (2014) milik Eric Green.
Akhirnya, saya mengetahui perkembangan musik Themilo dari masa ke masa. Dari sebagian track yang telah ditelurkan, kali ini saya mengambil “Daun dan Ranting Menuju Surga” sebagai teman di pagi hari yang dingin dan sunyi.
Setelah melewati mimpi yang cukup panjang, dua bola mata pun terbuka lebar. Waktu menunjukan pukul 6 pagi hari. Memandangi sebuah cahaya di hadapan mata, rasa-rasanya warna cahaya hari ini terlihat sedikit abu-abu, dengan hawa yang dingin. Mengapa belakangan cuaca pagi berbeda dari biasanya? Embun pagi masih berkuasa di sini. Raga seakan tidak bisa bergerak mengikuti perintah otak, hingga berselang beberapa menit sembari menanti jiwa kembali pulih untuk menggerakkan langkah pertamanya.
Comments (0)