A Page About: Mengilustrasi Kisah Penyelamat Rock 'n Roll
Berangkat dari salah satu lagu dari album kedua Komunal, "Manusia Baja" mengundang persepsi untuk digubah dalam sebuah alur cerita perjuangan.
Sekitar di awal tahun 2000, Doddy Hamson membentuk grup bernama Ragadub di kota Bandung, dan merilis album pertama berupa kaset. Dua tahun setelahnya, band beraliran hardcore itu memacu dirinya berinovasi dengan warna musik heavy metal, blues, dan thrash, dan hasilnya adalah sebuah grup musik bernama Komunal. Napak tilas band ini dimulai saat kemunculan album pertamanya Panorama (2004), dilanjutkan dengan Hitam Semesta (2008) dengan jumlah lagu yang amat banyak, dan Gemuruh Musik Pertiwi (2012) sebagai album terakhirnya, sampai saat ini.
Bagi saya pribadi, awal saya mengenal Komunal adalah ketika mendengarkan pada beberapa track dari album keduanya, Hitam Semesta. Entah mengapa, album ini secara subjektif memiliki warna musik yang jarang saya temukan, selain dengan jumlah track yang membuat saya menganga. Di album ini, ada satu track yang menurut saya sangat mengundang untuk didengar berkali-kali, yaitu “Manusia Baja” dengan sisipan lirik "rock 'n roll telah mati!". Untuk sampai ke lagu itu, saya merasa berdosa jika tidak mendengarkan beberapa track sebelumnya, khususnya lagu dengan titel “Pasukan Perang dari Rawa”. Tapi, untuk hari ini saya rela menukarkan jiwa dengan lagu “Manusia Baja”, hasil ramuan dari empat pemuda asal Sumatera Barat itu. Saya akan mendefinisikan seperti apa "Manusia Baja" di benak saya, dalam alur cerita imajinatif.
Dalam imajinasi saya, ada seorang manusia yang cukup tangguh di lagu itu (tentu, karena ada kata "manusia" dan "baja" di judulnya). Tokoh itu melawan segala rintangan yang ada di hadapannya, dan menaruh ambisi sebagai "penyelamat" untuk segilintir kaum yang ada di sebuah reruntuhan kuil, terletak di ujung barat. Dari selatan, si manusia baja pun mulai menyusuri berbagai aksen kehidupan yang gelap, yang ia temuia selama perjalanannya. Dimetaforakan seperti lembah sampai larva letupan gunung merapi, yang terus menyulut hingga kepermukaan. Dengan kekuatan yang ia punya, si manusia baja melawan dengan sisa kekuatannya yang ada.
"Hey, perjuanganmu masih panjang, ini belum apa-apa, jangan lemah dan segera bangkit untuk menembus ambisimu!"
Terlihat di sisi kiri, penjahat bertubuh gempal dengan raut wajah suram bertongkat senjata tengah menanti untuk bertempur. Hantaman pertama diberikan oleh si penjahat gempal itu. Si manusia baja tak bisa mengelak hingga terpental jauh ke ujung tebing. Di bawah sana, ada yang berharap si manusia ini jatuh untuk menjadi konsumsi mereka hari ini. Tapi, cerita akan berakhir jika ia jatuh dari tebing lembah, hingga si manusia baja kembali bangkit dan membalas hantaman si penjahat jahanam itu.
Comments (0)