Addy Gembel: "Saya Butuh Musuh, Ruang Tidak Nyaman, dan Kegelisahan"
Untuk penulisan lirik di album Kaliyuga sendiri ada proses-proses yang tidak dilakukan anda sebelumnya. Perbedaan yang paling mencolok yang anda rasakan dari sisi kreatif itu seperti apa?
"Jadi, album pertama Forgotten, Future Syndrome yang dirilis tahun 1997 itu prosesnya musiknya dulu, baru saya respon jadi lirik. Nah, album kedua sampai album Laras Perlaya itu prosesnya dibalik. Jadi saya yang menulis dulu cerita, saya juga yang merangkai amunisi, dan teman-teman lain yang megang instrumen di Forgotten merespon tulisan saya. Lewat tulisan saya mereka mencoba berimajinasi, tentang apa yang saya rasakan disitu, dan itu diaplikasikan ke dalam bentuk notasi lagu. Nah, untuk Kaliyuga itu polanya kaya kembali ke album pertama Future Syndrome, dimana memang, pertama saya kehabisan energi, karena saya harus bekerja dan fokus sama keluarga, jadi energi saya untuk menulis itu bisa dibilang tidak ada. Apalagi memang situasinya serba baru, dan saya harus dipaksa untuk adaptasi, dan proses kreatif untuk menulis sesuatu itu tidak ada. Ditambah dengan situasi yang sangat normal, ketika semuanya baik-baik saja, yang justru membuat saya tumpul dalam menulis.
Akhirnya saya memberi saran agar musiknya dulu saja yang dibuat, baru setelahnya saya respon ke dalam lirik yang saya buat. Lalu mereka membuat empat buah lagu, yang meliputi struktur, bagan, lalu direkam tanpa vokal, dan dikirim ke saya. Dari empat lagu itu coba saya respon. Tapi saya cuma bisa membayangkan ok lagu ini iramanya seperti ini, nadanya seperti ini, nuansanya seperti ini, cocoknya liriknya tentang ini. Akhirnya saya yang berbalik berimajinasi, dan empat lagu itu saya kirim balik, dan dari patokan empat lagu ini, akhirnya teman-teman yang lain bisa membaca arah atau tema besar untuk album Kaliyuga ini."
Foto diambil dari Instagram pribadi Addy Gembel (@addygembel), milik Asep Budiman (@fotografer_palsu_)
Comments (2)