Agar Musik Indonesia Tak Mudah ‘Diperkosa’ (Belajarlah Dari Denny)
Untuk mengenang Denny Sakrie (1963-2015)
Letupan-letupan kebahagiaan dari kembang api, memancar di langit yang kala itu kurang ceria. Para manusia tumpah ruah ke jalan, merayakan suka cita pergantian laman baru dari tahun 2014 ke 2015. Tak lepas senyum lebar itu, tak lepas raut wajah bahagia itu. Namun segala sesuatu berjalan urung 100%. Siapa yang tak tahu, jikalau Indonesia sedang berduka gegara Pesawat AirAsia QZ8501 penerbangan Surabaya ke Singapura, mengalami kecelakaan. Beberapa wilayah di Indonesia, berinisiatif untuk tak mengadakan pesta kembang api sebagai bentuk duka cita menghormati musibah tersebut.
Jika berbicara soal musik, maka kesedihan saat ini tak hanya soal pembajakan, kualitas musisi kian menurun, music venue semakin terbatas, dan lain-lain. Patut diakui, jika kita kehilangan barometer musik Indonesia; tak lain dan tak bukan yakni Hamdhan Syukrie. Asingkah dengan nama itu? Ya, karena memang kita lebih mengenalnya dengan sebutan Denny Sakrie. Memiliki julukan “kamus berjalannya musik Indonesia”, pria humoris ini meninggalkan kita semua akibat diserang penyakit jantung pada tanggal 3 Januari 2015 kemarin, dalam usia 51 tahun. Entah mengapa, secara personal, kesedihan ini tak hanya soal ditinggalkan, tapi juga merambah ke perasaan khawatir akan musik Indonesia yang kemungkinan hilang arah.
Kepergiannya sukses membuat orang terkaget-kaget. Begitupun penulis. Siapa yang menduga akan secepat ini? Gambaran apakah, yang secara semiotik, Tuhan berikan untuk musik Indonesia? Ada baiknya jika saat ini kita memperbanyak belajar dari sosok Denny Sakrie, agar belantika musik tanah air kian terjaga keidealisannya.

Berwawasan luas. Ya, itulah alasannya mengapa ia disebut “kamus berjalannya musik Indonesia”. Aktif menulis musik sejak 1979 alias ketika masih duduk di bangku SMP, Denny melanglang buana mulai dari wartawan, penyiar radio, MC, kritikus, hingga menjadi musisi sendiri (sebagai drummer). Kontribusinya beberapa waktu ke belakang bisa dilihat di media besar macam Harian Kompas, Tempo, hingga Rolling Stone Indonesia. Belakangan, diketahui bahwa ia layak untuk disebut seorang arsipis musik, mengingat ia punya database musik lengkap baik dalam nalar, ataupun rilisan dan buku-buku dalam (mungkin) rak di rumahnya. Demi menjaga kesegaran musik tanah air, maka mari kita coba menambah wawasan seputar ilmu harmoni ini.
Berani. Pernah dengar kasus Denny yang dihujat oleh para alayers di twitter karena mengkritik tentang acara penganugerahan musik Indonesia karena menggunakan sistem polling? Begitulah Denny, hadir demi adanya perbaikan. Dilansir dari kapanlagi.com, istrinya (Mike Hendrawati) berujar bahwa Denny saat ini memiliki beberapa bahan soal musik yang bisa dijadikan buku namun terkendala. Apakah itu? Ternyata dalam buku tersebut, Denny berusaha mengkritisi dan membuka ‘borok’ dari orang-orang dibalik permusikan Indonesia. How dare you, Om. Berani adalah modal kita semua untuk bersuara. Terkhusus kasus ini, berani adalah langkah awal kita demi membenahi musik Indonesia agar lebih baik lagi.
Mau. Ya, mau. Apakah maksudnya? Mau adalah mau. Dalam arti lain, punya inisiatif dan membuahkannya secara kreatif. Denny mau untuk memberikan kontribusi buat musik Indonesia, yang sebetulnya tak hanya harus menjadi musisi, namun aktif dalam kancah jurnalistik dan kritik. Demi terciptanya nada yang baik, maka diharapkan bagi siapapun yang berada dalam teritorial musik—baik penikmat hingga pemainnya—untuk sudi mendengarkan apa kata Denny. Hal tersebut merupakan bekal buat kita, dan penting adanya. Kepergian ini adalah alarm buat kita supaya lebih memahami lagi apa itu arti “kemauan dalam menjaga kesakralan sebuah karya seni”.
Satu pertanda ganjil terjadi, ketika Denny memasang quotes dari Steve Jobs sehari terakhir sebelum kepergiannya:
"Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidupku, apakah aku mau mengerjakan apa yang ingin aku kerjakan sekarang?”
Begitulah sabdanya. Terdengar pilu, namun itulah yang terjadi.
Coba memikirkan kembali, bahwasanya hal lebih membingungkan lagi adalah bagaimana sekarang kita harus menyikapi musik Indonesia. Apa yang mau diamati, jika sang pengamatnya sudah pergi? Apa yang mesti ditelaah, melihat kenyataan bahwa ternyata sang ahli meninggalkan semuanya? Mari saat ini kita belajar banyak dari Denny, akan bagaimana rasa aware terhadap musik dapat lebih ditingkatkan lagi. Kepergian pria beranak satu ini, (seharusnya) dibarengi pula dengan kelahiran Denny-Denny yang lain; mereka yang tak sungkan mengkritisi, mereka yang tak acuh dengan fenomena, dan mereka yang ingin agar seni selamanya terjaga secara murni.
Selamat jalan Om, sampaikan salam untuk mereka yang juga ada di haribaan-Nya. Terserah, mau itu Kurt Cobain, Keith Moon, atau Ucok Harahap. Saatnya kami yang bersama-sama menjaga musik Indonesia, agar tak mudah ‘diperkosa’.
Demi mengenang apa yang telah terangkum, sila simak tulisan Denny Sakrie yang mayoritas diisi seputar musik, pada link berikut ini:
http://dennysakrie63.wordpress.com/
Oleh: Bobby Agung Prasetyo
foto: net
Comments (0)