Agung Guitar Course
Bisa dikatakan komunitas underground Bandung adalah salah satu komunitas musik terbesar di Indonesia. Banyak band-band berkualitas muncul dari komunitas satu ini, namun pada perkembangannya komunitas underground Bandung tidak hanya bergerak dalam mencetak musis-musisi jempolan. Sekarang ini dapat dikatakan, pergerakan komunitas ini telah mermbah kedalam berbagai aspek salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Agung Guitar Course (AGC), adalah salah satu contoh dari pergerakan komunitas underground pada bidang pendidikan. AGC sendiri lahir dari kesenangan Agung, yang juga merupakan gitaris band Burgerkill untuk melakukan sharing mengenai musik khususnya dalam bidang alat musik gitar, di tambah banyaknya teman-teman dari komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap gitar, menjadikan motivasi tersendiri untuk membuat lembaga non-formal yang bergerak dibidang musik. Berbekal pengalaman dan ilmu yang diperolehnya dalam dunia musik, akhirnya pada 6 November 2001 membuat Agung bersama dengan Irvan “Abo” Hadian (Nectura), memberanikan diri membuat tempat les gitar secara independen yang diberi nama AGC.
Banyak kendala yang dihadapi AGC di awal kelahirannya, seperti mengenai sarana dan prasarana yang kala itu kurang memadai. Seiring dengan bertambahnya jumlah murid, membuat kendala tersebut bisa tertupi.
“kendala, mungkin contoh kecilnya mulai dari fasilitas, seperti gitar yang masih belum banyak, lalu ampli dan tempat juga kan dulu masih di kamar, numpang sama orang tua tidak seperti sekarang ini.” tutur Agung
Namun, satu masalah lainnya muncul ketika Agung yang kala itu menjadi satu-satunya pengajar merasa kewalahan untuk mengajar puluhan siswa yang ada saat itu. Akhirnya ditunjuklah Gan-gan (Forgotten), untuk mengisi kekurangan di posisi pengajar. Hingga pada akhirnya dengan mempertimbangkan semakin banyaknya jumlah siswa, Agung memutuskan untuk merekrut Hin-hin “Akew” (Nectura), untuk melengkapi formasi pengajar saat itu, selain Hin-hin ada dua nama lain yang juga sempat menjadi pengajar di AGC yaitu, Akuma (Overloud), dan Rudi Dian (Jeruji). Namun, karena disibukan dengan pekerjaannya masing-masing akhirnya Akuma dan Rudi Dian pun harus mengundurkan diri, dan posisi mereka di gantikan oleh Balum.
Lahir dari komunitas underground Bandung, dan di dukung dengan seluruh pengajar dengan dasar musik rock dan metal, membuat AGC dipandang oleh banyak orang sebagai sarana belajar untuk para orang-orang yang memang memiliki antusias terhadap musik yang didominasi oleh suara distorsi yang menggema. Tercermin pula dari banyaknya siswa AGC yang rata-rata memang memiliki ketertarikan musik yang sama yaitu, metal.
Padahal nyatanya AGC sendiri memiliki program belajar yang tak jauh berbeda dengan kurikulum di sekolah musik lainnya. Salah satunya AGC memiliki program belajar Classical Music yang diberikan untuk siswa-siswa yang ingin belajar dan mendalami bagaimana cara bermain musik klasik. Selain itu ada pula pola pengajaran musik Rock & Heavy Metal, umumnya program pengajaran seperti ini diperuntukan bagi siswa yang mengambil program belajar gitar elektrik.
Selain itu AGC pun memiliki program yaitu “Learning By History”, yang artinya AGC memberikan pelajaran tentang sejarah musik itu sendiri dari mulai pemahaman terhadap musik blues, jazz hingga pada akhirnya mencapai pada titik musik Rock. Salah satu cara memperkenalkan tentang sejarah musik itu sendiri dengan cara membuat satu acara bertajuk “Highway to Rock” yang menjadi agenda rutin AGC, dan itu mendapat respon positif dari salah satu pengajar di AGC Gan-gan. Dia menuturkan bahwa dengan adanya acara “Highway to Rock”, pemahaman murid terhadap sejarah musik khususnya musik metal bisa lebih tereksplor lagi, karena menurutnya basic dari musik metal itu sendiri adalah musik classic rock.
Hal yang membuat AGC berbeda dengan sekolah musik khusunya gitar lainnya yang cenderung terlalu formal dalam memberikan pengajaran adalah, AGC memiliki motto “Learn With Fun” dalam artian siswa diberikan pemahaman bahwa instrument gitar lebih mudah dipelajari jika berpangkal pada hubungan emosional terhadap alat musik tersebut.
Dengan motto “Learn With Fun”, para siswa AGC diberikan pemahaman bahwa instrumen gitar lebih mudah dipelajari jika berpangkal pada hubungan emosional terhadap alat musik tersebut. Hal inilah yang membedakan AGC dengan sekolah gitar lainnya yang cenderung terlalu formal.
Namun, pada perkembangannya sekarang ini, AGC tidak hanya memberikan edukasi pada gitar saja. Karena kini AGC telah menambahkan Bass dan pehaman dasar pada sound dalam kurikulum edukasi yang diberikannya, dengan menambah beberapa tenaga pengajar seperti Paneu (Nectura) yang ditunjuk untuk mengajar Bass, dan Innu Regawa (Massive Guard) yang ditunjuk sebagai pengajar di bidang pemahaman dasar sound. (Tian)
Comments (0)