Album Review : Duo Akustik Sensitif Yang Siap Mengubah Warna Dinding Kamar Tidurmu
HEART BREAK SONG (04:41) – Sejak awal, nada-nada di nomor ini terasa sentimental. Lagu ini bisa masuk jadi koleksi lagu patah hati dengan versi lebih elegan, dan sepertinya benar, galau hanya akan menyisakan pedas-pedas-asin, bila disisinya tak tersedia gitar. Nuansa lagu ini sejenak mengingatkan kawula generasi 2000-an, akan lagu-lagu hits seperti lagu Mandy Moore misalnya.
HEART IN A CUP (04:10) – Part intro lagu ini sangat adaptif terhadap banyak jenis telinga. Jika kamu dengar lagu ini kala sendirian di kafe sambil minum green-tea latte, rasanya si cangkir mendadak berbicara padamu. Akhirnya kamu ada teman, meski nyatanya kamu makin menyatu dengan kesendirian. Jika ditambah suasana hujan, lagu ini akan membuatmu ingin nambah latte hingga dua; atau tiga cangkir lagi. Bagi kalian yang bertipe lone-wolf di kamar tidur, lagu ini cocok ditempatkan satu playlist dengan The Cardigans, Mocca, D’Cinnamons, atau Ballads of the Cliché. Sabrina juga boleh.
MASYA (00:53) – Sebuah tembang storytelling riang. Durasinya yang tak sampai satu menit, mengingatkan saya akan soundtrack iklan keluarga kecil bahagia, yang hidup di pinggiran Broadway sana. Uniknya, tembang satu ini seakan membuktikan, bahwa kehadiran nada-nada asyik dalam durasi yang minim, ternyata sangat membuat kuping penasaran.
PVJ (05:14) – Judul lagu ini bukanlah mengutip nama salah satu supermall Bandung – yang tiket bioskopnya kemahalan itu. Coba dengar, gitar pada lagu ini sangat jazzy (agak bossanova juga). Kental akan nuansa peaceful dan riang. Berbunga-bunga, seakan melukiskan kondisi pedekate di suatu malam minggu. Mood ala kencan di pusat kota, tanpa harus terganggu banjir atau kemacetan lalu-lintas. Liriknya, mengisyaratkat Bandung sebagai kota damai, indah, dan bahagia. Atau jangan-jangan deskripsi ini sebatas sarkas? Who knows?
Comments (0)