Album Review : Unit ‘Episodic-Folk’ Bandung Yang Tengah Membuat Post-Rock Lebih Teaterikal & Matematis

Album Review : Unit ‘Episodic-Folk’ Bandung Yang Tengah Membuat Post-Rock Lebih Teaterikal & Matematis

Lagu ‘Bias Binar’ menjadikan post-rock sebagai ‘bingkai’ utama, di mana aksen vokal balada menjadi ‘kanvas’-nya. Melodi flute di part intro beratmosfir cukup lawas – cukup untuk membangkitan energi musik dari masa kejayaan Bimbo. Di seperempat akhir lagu, terdapat satu part eksplosif berpola ganjil – membuat kami membayangkan seorang imigran Kosovo – yang di balik jasnya terselip tiga hingga empat paspor negara lain. Yap, first impression dari lagu ini, adalah rasa yang kental akan diaspora, sarat persilangan. Meskipun tak semua nada dan diksi pada ‘Bias Binar’ terdengar catchy, setidaknya ‘anak sulung’ Sukat satu ini tetap mengandung racun adiktif berdurasi 15 detik. Tepatnya, ketika lagu memasuki timeline 01:30 hingga 01:45. Sepenggal repetisi berlirik “berbagai warna yang akan tercipta, mencipta layaknya manusia bicara”, dinyanyikan dengan gaya choir – mungkin lebih tepatnya chants dengan metode statakato. A decent depth!

Wajar, bila kehadiran ‘Bias Binar’ otomatis menjadi ‘beban’ tersendiri bagi sang adik, yakni singel kedua, ‘Freedom(?)’. Lagu satu ini perlu mengejar keseimbangan vibes milik sang kakak. Sebenarnya, potensi lagu ini sudah terasa sejak denting grand-piano memenuhi bagian intro. Nuanasa ala Amy Lee-nya Evanescense (versi shoegaze) sudah terasa. Hanya saja, interval nada yang tersedia di part ini terkesan sulit digapai oleh range vokal wanita. Nada dasarnya yang terlalu rendah, seakan memaksa Opoy menelan sejenak karakter vokalnya. Sedangkan pada bar yang memerlukan nada tinggi, tarikan suara Opoy hanya mampu menggapai timbre falset – padahal, perlu volume lantang untuk menyuarakan ‘kemerdekaan’ (sebagaimana judulnya). Namun kabar baiknya, memasuki menit ke-2 tema lagu berubah cukup drastis. Groove dari alat perkusi seakan memberi isyarat ilustratif, bahwa pada bagan ini sekumpulan suku primitif tengah bersiap melawan bangsa penjajah. Lalu yang terjadi di part setelahnya, energi khas Explosion In The Sky mereka ‘undang’ ke tanah Pasundan. Meski ‘denyut nadi’ lagu ini bukan dari wilayah vokal, setidaknya pada durasi 04:36 sound ciamik dari gitar sukses membawa dinamika lagu – hingga klimaks ke titik eargasm. Kesimpulannya, kini khazanah musik indie Bandung sedang diperkaya oleh satu band yang mampu membuat post-rock lebih ber-syair; mendobrak metode-metode shoegaze pada umumnya.

An ‘episodic-folk’. Demikian kami menjuluki band Bandung satu ini. Jelas, maksud dari julukan ini mengandung harapan visioner bagi masa depan mereka di belantika musik indie Indonesia (khususnya di jazirah Bandung Raya). Pada hari ini, ‘bebas’ berkarya saja tak cukup – karena toh kemerderkaan juga perlu ‘keberanian’. Akan wajar, bila suatu hari nanti para pengamat musik mulai menaruh harapan, terhadap konsistensi band ini – dan bisa jadi, album-album Sukat kelak ‘diplot’ sebagai suksesor penerus dari musik-musik era Sirkus Baroq atau Discuss. 

Sumber foto : Dokumen pribadi Sukat

BACA JUGA - Album Review : Menelisik Suara Musik Parahyena Lewat Album Ropea

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner