Album Review: Membingkai Hal Traumatis dengan Irama Puitis

Album Review: Membingkai Hal Traumatis dengan Irama Puitis

Ingatan yang melekat ketika mereka masih kecil tentang doktrin program-program rezim saat itu, dinyanyikan sang vokalis Ugoran "Ugo" Prasad lewat istilah hantu-hantu masa kecil, di lagu pembuka album ini, “Normal, Moral”. Tentang program undang-undang dua anak cukup mereka gambarkan lewat lirik guru pendidikan moral pancasila, yang di dalam lagu itu dikisahkan jadi satu sosok yang mengawasi pergumulan sepasang suami istri di ranjang pengantin mereka. Dia menjadi satu sosok yang tidak senang ketika sang istri tidak lagi menjadi perawan. Beberapa detik menuju durasi tiga menit lagu ini, tersibak alasan sang guru bertingkah seperti itu, yaitu karena kisahnya yang mati bunuh diri setelah hutang menggunung karena kalah judi. Sederhananya, sang guru adalah “bapak” yang kebingungan dengan hasrat sepasang suami istri tadi yang berpotensi melahirkan anak, dan tentunya akan membebani sang “bapak”, karena nyatanya keuangannya tidak lagi stabil oleh hutang yang menggunung.

Kompleksitas kepingan cerita album ini kemudian diperkuat di lagu kelima berjudul “Dapur, NKK/BKK”. Selama empat menit tiga puluh enam detik, Ugo menangkap bingkai suram kegagalan program rezim tersebut lewat penggambaran lirik di dapur ibu berubah kupu-kupu melahirkan adik yang prematur, lalu adik dimakan anjing. Potret suram tadi diteruskan dengan kompleksitas perangkat negara yang berubah haluan dengan penggambaran kota dikepung tentara. Ada semacam nuansa kekacauan akan stabilitas negara di ujung rezim yang chaos. Kegagalan program yang tidak cukup jadi jawaban akan iming-iming kemakmuran yang terjamin. Karena nyatanya, itu hanya citra yang dipoles sedemikian rupa jadi gambar tanpa makna.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner