Album Review: Mengulas Tumpahan Inspirasi Oscar Lolang
Seperti apa album Drowning In A Shallow bikinan Oscar Lolang kali ini? Masihkah menjanjikan seperti materi-materi sebelumnya?
Nama Oscar Lolang kini makin merajahi benak penikmat musik di Indonesia. Terlebih karena album pertamanya yang bertajuk Drowning In A Shallow muncul di permukaan. Untuk takaran musik folk yang menjadi benang merah dalam karya musiknya secara keseluruhan, Oscar Lolang mampu menyajikan dengan kemasan yang berbeda dibandingkan musisi folk lainnya, khususnya untuk era sekarang. Mari kita simak, kemasan seperti apa yang dihadirkan oleh pria asal Jakarta berusia 23 tahun itu di sepuluh lagu pada album pertamanya.
Di awal lagu, “The Rain Was – A Fallin Hard In Vain” dibuka dengan vokal penuh emosi dan jentikan jari dari beberapa paduan suara sebagai intro. Lanjut di lagu kedua, yaitu “A Bosnian & A Brazilian”. Pada lagu ini, tempo musiknya masih tak berubah jauh dibandingkan lagu pertamanya, namun di lagu ini genjrengan gitar dari Oscar mulai terdengar lebih bernada, dan di tengah lagunya Oscar seperti berdialog dengan lawan bicaranya.
Selanjutnya, “Unwated Temple” menjadi materi yang dapat mengimajinasikan lansekap daerah tanah gersang. Tapi, di liriknya Oscar menyebutkan satu situs Indonesia yaitu Candi Prambanan dan Padjajaran. Mungkin hal itu adalah tema utama pada lagu ketiga ini. Pada lagu “Mr. Othar’s Vacation Blues”, Oscar membuka prolog cerita baru yang diiringi oleh permainan gitarnya, lalu seketika senyap seraya dia berbicara mengenai Papua. Setelahnya, lagu kembali dibawakan, dan nada musik di lagu ini mirip dengan musik ala Bob Dylan. Sejujurnya, lagu ini cukup membosankan, karena selain banyak jeda spoken word, bahasa Inggrisnya juga susah ditelaah.
Pada track selanjutnya, Oscar menyajikan cerita yang berbeda lagi. Pada "Eastern Man”, speech khusus untuk lagu ini sangat enak dan bagus untuk diulang berkali-kali. Lalu, pada “Yellow Moon”, ia bermain petikan gitar bernada gloomy dan sangat senyap. Hanya lirik saja yang diunggulkan pada lagu ini, tidak dengan permainan gitarnya. Mungkin ini salah satu bentuk "mengistirahatkan telinga" kala mendengar album Drowning In A Shallow Water.
Tapi hal itu menjadi semakin cocok ketika di track selanjutnya “Clouds Of Jakarta” menggambarkan langit mendung dan dinyanyikan dengan penuh kemegahan dan emosional. Lanjut di “Green Man”, nada yang dipakai masih serupa dengan materi sebelumnya, hanya perbedaan berada di vokal rendah dan mengunggulkan petikan gitar. Setelah melewati suasana yang gelap gulita di dua lagu sebelumnya, “Travel’n” dibawakan dengan warna musik yang ceria, selayaknya terbitan cahaya matahari selepas mendung. Pada akhir, lagu ditutup dengan lagu cover “Kumbaya”, dengan sangat santai dan sejuk.
Kesimpulannya, rata-rata lagu di album Drowning In A Shallow Water milik Oscar Lolang mempunyai cerita dan musikalitas yang berbeda-beda, dan pendengar diarahkan untuk menelaah cerita tersebut dengan lirikal berbahas Inggris. Selain itu, juga ada beberapa track yang saling berkisinambungan, seperti “Clouds Of Jakarta” dan “Travel’n”. Uniknya, Oscar berani membawakannya dengan ciri khas akar musik folk di era awal kemunculannya di Amerika sana, seperti contohnya Bob Dylan, John Denver atau Nick Drake. Dengan modal seperti ini, diharapkan pendengar musik saat ini, khususnya genre folk lebih banyak mengadopsi akar musik folk, sebelum menyentuh folk hanya mengunggulkan kesenduan pada karya musiknya seperti yang dikeluarkan oleh musisi saat ini.
Comments (0)