Allan Soebakir, Bersenang-senang Akan Klip Arus Pinggir
Kini perkembangan musik tak lepas dari teknologi yang kian canggih dan inovatif. Terutama dalam hal dunia audio visual, entah itu film maupun video yang telah menghiasi warna-warni dalam kancah musik itu sendiri. Penggerak motor dari semuanya itu kini beragam, mau tua atau muda yang merujuk pada ide-ide cemerlang. Salah satunya yang memiliki kurasi seperti lahir dari komunitas yang menamakan diri Sinema Pinggiran.
Rumah produksi ini diinisiasi oleh seorang pria bernama Allan Soebakir dan telah menghasilkan karya-karya klip band-band independen dengan kualitas mumpuni. Sebut saja Morfem, Siksakubur, Superglad, Adrian Adieotomo dan nama-nama ciamik lainnya yang setidaknya telah menjadi 'korban' tangan dingin seorang Allan. Belum lama ini kami sempat melakukan obrolan hangat dengan Allan Soebakir walaupun harus lewat surat elektronik. Namun percakapan hangat ini terasa seperti bertemu secara langsung dan intim. Tanpa berlama-lama, mari simak percakapannya di bawah ini:
DC: Bisa diceritakan Allan Soebakir itu siapa? Lahir dimana dan kapan? Terus ceritain dong kehidupan sehari-hari semenjak kecil sampai sekarang gimana?
AS: Gue lahir 15 Agustus tahun 1988 di Jakarta. Tumbuh besar di pondok kopi, daerah perbatasan Bekasi dan Jakarta yang sebagian besar teman disana mendengarkan lagu Slank, jadi lah gue Slankers sejati, walau Slank saat itu rajin meneriakkan kata peace dan damai, tetap aja di lingkungan gue tawuran saat itu nge-hype banget.
DC: Elo telah mengenyam pendidikan darimana dan bagaimana kehidupan pendidikan elo, bisa diceritakan?
AS: Ketika SD gue bersekolah dengan baik dan benar. Namun saat SMP gue memutuskan untuk sekolah malam, begitu juga dengan saat SMA gue juga sekolah malam. Di saat itulah gue mulai berkenalan dengan karya–karya “The Jadugar” dan mulai melihat berbagai macam video musik, kemudian masuklah gue ke IKJ tapi tetap aja gue emang gak bisa mengikuti sesuatu yang formal, jadi ya kandas lagi.
DC: Oh iya elo masih pacaran atau sudah beristri? Kepo nih
AS: Gak ada nih,sepi. Cariin dong rel...
DC: Bisa diceritakan awal proyek bernama Sinema Pinggiran itu datangnya darimana, kapan, dan kenapa bisa terbentuk itu?
AS: Inisiatif dari temen setongkrongan di IKJ, kalau kita harus membuat sebuah movement. Awalnya niat kita jadi semacam distributor untuk temen–temen yang punya karya visual, tapi bingung mau dikemanain? Jadi kita buat beberapa screening film model layar tancep gitu, dari tempat ke tempat, sekolah ke sekolah, sampai akhirnya coba untuk memproduksi film sendiri memakai budget patungan. Hingga suatu hari iseng coba bikinin video musik untuk Borock n Roll dan akhirnya malah keterusan dan keasikan bikin video musik.
DC: Mengapa namanya harus Sinema Pinggiran dan mengapa juga dikonsentrasikan ke audio visual dalam hai ini videografer? Visi dan misi seperti apa sih sebenarnya?
AS: Sotoy sotoyan bocah baru masuk kuliah seni, baca bukunya Gotot Prakosa yang judulnya Film Pinggiran, sehabis itu kita tertarik sama movementnya Gotot di tahun 70 an, kala itu Pak Gotot muterin (Screening) film dari desa ke desa. Awal visi misinya seperti itu, tapi jadi jauh melenceng karena zaman waktu Gotot melakukan movement seperti itu beda sama zaman sekarang. Jadi kita merubah arah kita jadi kelompok kolektif untuk memproduksi karya visual, tapi tetap terkadang kita bikin screening film, tapi kita selingi dengan musik atau band biar lebih menarik.
DC: Tim elo sampai sejauh ini sudah berapa orang? Dan siapa aja yang ada di dalamnya?
AS: anggota yang aktif dan nimbrung tiap hari di base camp ada sekitar tujuh orang, tapi kalau lagi produksi bisa lebih, tergantung tingkat kesulitan eksekusinya juga sih.

DC: Spesifikasi talenta yang elo bakal dijadikan videonya dilihat dari aspek apa aja? Apa masih di jalur pertemanan ato juga datang sebagai fans?
AS: gue selalu ngotot untuk membuat video musik band kesukaan gue, kaya waktu gue bikin Marjinal. Gue harus bolak–balik ke komunitas Taring Babi untuk ngerayu mereka bikin video dan akhirnya luluh juga mereka, jadilah video musik "Negri Ngeri". Beda lagi dengan BARBARS, Borock n Roll, Ramayana soul dan D'jenks, kita sering nongkrong bareng jadi pendekatannya pake cara–cara pertemanan. Nah beda lagi sama Dalagita, girlband jebolan X-factor yangg dipegang Sony Music, gue pake cara–cara formal yangg nyebelin tuh hahaha
DC: Sudah berapa banyak video musik yang elo garap sampai saat ini?
AS: Sejauh ini 48 video musik, tersisa dua lagi untuk jadi 50 video musik, kayanya gue mau bikin exhibition deh kalo udah sampe 50 video
DC: Pengalaman terbaik dan tak mengenakkan selama menggarap video musik apa aja sih? ada yang konyol ato nimbulin konflik? ceritain dong hehe
AS: Setiap produksi video pasti ada aja konflik dan cerita, tapi yang paling berkesan buat gue ya pembuatan video Marjinal – "Negri Ngeri" dan Steven Jam. Yang menarik dari pembuatan video marjinal ya itu, gue harus ngeyakinin mereka kalo video yang akan gue bikin ini akan punya impact yang bagus buat mereka, dan gue harus take ulang lagu "Negri Ngeri", karena materi lagu sebelumnya kurang bagus, belum lagi diskusi masalah konsep dengan Mike dan Bob yang memang sangat kritis mempertanyakan konsep yang gue ajuin. Berbeda lagi dengan Steven Jam, mereka minta bikin tiga video musik untuk album barunya, dan gue disuruh bikin pengajuan budget, setelah gue bikin dan ajuin, mereka malah naikin budgetnya 3x lipat dari yang gue ajuin, dan mereka minta gue pake kamera red cam, kamera 4k yang emang lagi in dan yang jadi masalah gue sama temen-temen sama sekali belom pernah pake tuh kamera, akhirnya ya sudah gue beraniin diri dan ngulik abis abisan tuh kamera.
DC: Bagaimana elo mengembangkan relasi elo perihal proyek ini dan hasil garapan elo semua?
AS: Gue Cuma manfaatin media sosial, dan tahu-tahu ada yang calling, gitu aja sederhana.
DC: Hal apa sih yang menarik dari Sinema Pinggiran agar bisa menggugah mata masyarakat?
AS: Sepertinya gak ada deh rel, hal yang kita lakukan di Sinema Pinggiran memang cuma bersenang–senang atau nostalgia dengan visual yang kita suka. Hampir engga mikirin respon apapun dari masyarakat, tapi akhir-akhir ini gue dan anak–anak lagi coba belajar lebih visioner nih untuk kedepannya.

DC: Sesuatu yang belum elo capai sampai saat ini apa sih? Ada rencana buatin video buat band luar negeri engga?
AS: Bikin film, selama 4 tahun terbentuk kita baru satu kali bikin film, itu juga tahun 2011. Jadi bikin film kayanya jadi prioritas kita saat ini. Kalau untuk bikin band luar mudah mudahanlah hehe
DC: Apa saja video favorit elo yang selama lo buat? Atau video terbaik sepanjang masa versi elo apa nih? Pasti ada kan
AS: MARJINAL – NEGRI NGERI. Video luar gue suka banget sama karya karyanya Michel Gondry dan Spike Jonze
DC: Band favorit elo apa aja? lokal dan mancanegara
AS: Nirvana, Pearl jam, Soundgarden, Stone Temple Pilots dan sebangsanya lah. Dalam negeri pastinya SLANK dong sama MARJINAL
DC: Terakhir, klise sih, Harapan dan pesan yang elo pengen disampaikan apa sih sebagai seorang Allan Soebakir?
AS: Video musik ini kan bentuk kesenian yang berdiri sendiri lepas dari film atau apapun itu. Gue harap ada wadah semacam MTV lagi atau diberi ruang pameran selain di Youtube. Tapi sepertinya kalau cuma berharap sih gak bakalan terjadi ya. Jadi ya mungkin gue akan terus rutin bikin gigs musik sambil screening video musik.
Foto: Allan Soebakir & Sinema Pinggiran Docs.
Comments (0)