Amarah Vague Dalam ‘Sajak Pucat Pasi’

Amarah Vague Dalam ‘Sajak Pucat Pasi’

Seakan ingin membuat The Beatles dan Michael Jackson jengkel, style seperti ini nyatanya sukses melahirkan pentolan macam At The Drive In. Hari ini, Indonesia punya Vague.

Jangan-jangan, musik post-hardcore memang lebih suka menghapus kesan flamboyan milik semua beat pop/rock bertempo sedang. Sejak detik pertama lagu, riff gitar memenuhi singel ‘Sajak Pucat Pasi’ (rilis Maret 2017) dengan rentetan sirine elektronik khas American-rock era At The Drive In atau Fugazi. Singel ini menjadi ajang pertama kali Yudhis (guitar/vocals), Gary (bass) and Januar (drums) memproduksi lagu berbahasa Indonesia.

Sejak awal, dinamika lagu sudah mencapai fase klimaks. This peaking vibe means bahwa Vague masih mengusung aura emosional khas anak punk di EP ketiganya ini. Pendengar musik-musik macam Barasuara mungkin merasa lagu sejenis ini terdengar datar. Namun yang saya dengar, Vague sedang bosan bertele-tele dalam menyuarakan pesan (kecuali jika gitar Yudhis berjenis Fender Tele). Ibarat anak rebel yang lebih suka bicara satu kalimat pedas ketimbang belasan paragraf orasi. Dari aspek lirik, lagu ini seakan menyiratkan metafora, bahwa jika dalam satu kali perjumpaan dirimu sudah berhasil menarik kawanmu, maka untuk perjumpaan kedua kamu tak lagi perlu sibuk dandan.

BACA JUGA - Energi Penghangat Kala Jalanan Macet Dari Bedchamber

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner