Ambiguitas Dalam Porak Poranda Musik Sungsang Lebam Telak
Mungkin mereka tidak seperti sedang bermain musik, karena terkesan berantakan dengan musik yang mereka mainkan. Susah untuk mencari relevansi antara judul lagu dan cara mereka memainkan lagunya. Sehingga lagu mereka bisa diinterpretasikan beragam oleh pendengarnya
Diantara banyaknya band-band indie potensial dari berbagi kota di Indonesia, ada sebuah band yang hadir dengan musik yang memainkan ‘free jazz’, superjazz, experimental noise kontemporer bla bla bla or whatever you named it. Tentang sebuah lagu yang tidak terstruktur beraturan, baik dari segi bagan lagu sampai aransemen musiknya.
Mungkin mereka tidak seperti sedang bermain musik, karena terkesan berantakan dengan musik yang mereka mainkan. Susah untuk mencari relevansi antara judul lagu dan cara mereka memainkan lagunya. Sehingga lagu mereka bisa diinterpretasikan beragam oleh pendengarnya, bahkan ketika lagu mereka dihubungkan, atau dianalogikan pada sebuah gambaran lagu cinta. Ketika seseorang jatuh cinta tidak akan ada yang benar-benar bisa merasakannya selain dari orang yang mengalaminya sendiri. Ketika Sungsang Lebam Telak bermain musik, tidak peduli apakah orang lain akan mengerti atau tidak dengan musik yang mereka mainkan, toh nyatanya mereka sangat menikmati ketika mereka bermain musik. Seperti itulah cinta yang mereka rasakan, untuk kemudian ingin mereka coba terjemahkan dalam lagunya.
Cinta tidak bisa dijelaskan, sekeras apapun mencoba menerjemahkan apa itu cinta, maka jawabannya tidak akan pernah ada. karena cinta itu sendiri adalah sebuah intuisi dari perasaan, yang kiranya sulit dijelaskan melalui lisan atau tulisan. Pun begitu ketika cinta yang diwakili oleh sebuah lagu dan musik yang mencoba menangkap esensi dari cinta itu seperti apa. Tapi Sungsang Lebam Telak lewat lagunya berhasil menerjemahkan cinta dalam artian yang benar.
Ketika kita mendengarkan lagunya adalah seperti kita mendengar orang yang sedang bercinta dengan segala hasrat yang ditumpahkan melalui bentuk nada dan harmoni yang porak poranda dalam rima. Namun walau begitu, biarkan saja mereka memainkan lagunya sampai selesai. Setidaknya ungkapan ketika jatuh cinta dunia serasa milik berdua adalah benar adanya, yang dalam hal ini menjadi milik bertiga, yakni milik Dani, Age, dan Gembi para personil Sungsang Lebam Telak itu sendiri. Ringkasnya, cinta adalah abstrak, dan tergantung siapa yang merasakannya. Ada yang menganggapnya manis, ada yang menganggapnya pahit. Terserah saja, seperti ketika memaknai musiknya Sungsang Lebam Telak.
Sumber foto : http://madahbakti.blogspot.co.id/
Comments (0)