Anto 70sOC : Nama Band Keren Itu, Dari Tiga Kata Kayak ‘Teenage Death Star’
Dimulai sekitar tahun 2004 pada awal kemunculannya di kota Bandung, Anto Arief menggarap sebuah projek musik funk 70s Orgasme Club. Lewat beberapa karya musiknya yang mungkin terbilang baru bagi kuping pendengar saat itu, nyatanya membawa nama 70s Orgasme Club menghadirkan EP perdanan supersonicloveiscated ditahun 2011 silam.
Namun, pasca dirlisnya mini album tersebut. 70s Orgasme Club nyatanya menjadi debu belaka hingga pada tahun 2017 hadir kembali dengan warna baru. Kehadirannya yang diawali dengan identitas baru berupa 70sOC ini, turut juga menghadirkan sebuah single “Nongkrong 70” yang merupakan upaya Anto Arief (funky guitar/vokal), Galant Hi (raw groove bass thumping) dan Gantira Sena (funky beats on drums) menuju album penuh pertamanya bertajuk Electric Love. Dalam album penuhnya 70sOC, yang disetir oleh Tesla Manaf, akhirnya menciptakan materi musik kental dengan funk yang dibaluti dengan beberapa unsur musik lainnya seperti jazz, blues rock hingga mendapat respon positif dari Herry Sutresna ‘Ucok’ mantan personil Homicide.
Sebelumnya, bisa diceritakan kenapa mengganti nama band dari 70 Orgasme Club menjadi 70sOC ?
Sebenarnya, basic nya sih adalah kalau 70s Orgasme Club itu formasi yang dulu ya. Kalau sekarang kan bisa dibilang rebrand, layernya juga baru ada galan sama bagan. Terus juga bahasa Indonesia, dan unsur funk nya lebih kental gk sekedar trio atau blues rock yang udah-udah. Lagian pas jaman dulu masih memakai nama 70s Orgasme Club orang-orang masih menyebut ‘70s’ dan nama itu masih kuat. Ya nama baru atau yang dulu gk jauh berbeda, paling bedanya kalau cari di lewat link streaming beda namanya itu aja sih.
Tapi alasan pergantian nama itu, apakah didasari kata ‘orgasme’ yang mungkin tanda tanda tanya bagi beberapa khalayak ?
Ya dan tidak sih. Cuma memang ada kendala sama nama ‘Orgasme’ itu sih, karena pas bikinnya jaman kuliah kan, pengen nyari nama yang keren pada waktu itu. Karena yang udah-udah nama band yang keren itu dari 3 kata kaya Teenage Death Star. Cuma perjalanannya adalah ketika menyampaikan nama band ini ke saudara atau mertua. Trus sama dulu kita itu dulu jual merchandise itu gk bisa dipakai semua orang. Ternyata beberapa orang ada yang segan pakai dengan penggalan nama band kita dulu.
Pergantian nama ini juga didasari dengan adanya personil baru didalamnya. Tapi sebelum merilis album electric love dan mengganti identitas baru, bagaimana Anto dapat mempertahankan unit ini seorang diri ?
Jelas jenuh sih, karena vakum nya lama banget. Mini album supersonicloveiscated itu dirilis tahun 2011 dan electric love 2017, butuh 6 tahun untuk hadir lagi. Itu lumayan ada naik turunnya sih, intinya adalah ada berbagai macam periode dalam hidup saya yang bikin saya sadar kalau saya itu gk bisa kalau gk main musik. Ketika waktu 70sOC gk ada manggung setelah rilis mini album, dan udah aja lepas setelah itu. Gak ada strategi promosi dan lainnya, setelah itu rilis gk ada apa-apa, dan saya gk tau mau ngapain dengan 70sOC saya mengalihkannya ke beberapa hal lain seperti membahas pameran dan lainnya. Tahun 2013’an saya ngejam di taman Lansia sampai ditawarin main di cafenya Rico ‘Mocca’, Bit and Bite. Disitu main dan saya jadi kaya acara open mic gitu, ya beda aja gitu pasca 70s vakum saya malah suka jamming sendiri pakai gitar akustik aja. Nah dari situ saya ketemu Tulus yang belum keluar album pada saat itu, trus jadi gitaris nya Tulus. Pas main sama Tulus, malah saya bisa lebih fokus main musik ga perlu ngerjain yang lain. Tapia da yang kurang nih, masih belum main karya sendiri dan itu dia niatan saya untuk jalanin 70sOC lagi. Dulu pas jaman sama tulus 70sOC sempat beberapa kali manggung, cuma naik turun dan dulu album electric love ini sempat pengen di produserin sama Rekti ‘The SIgit’, cuma masalah waktu kendalanya tu brengsek banget. Formatnya udah direncanakan seperti kaya sekarang, cuma prosesnya rekam gitar, bass dan drum dulu. Itu sudah dilakukan, cuma pada sibuk semua dulu itu termasuk saya juga. Sampe akhirnya datenglah Tesla Manaf, yang kata dia bisa beres dalam waktu 2 bulan. Itu menarik banget, karena kan terluntang-luntang lama banget kan 70s OC ini, tiba-tiba kata dia dua bulan. Sampai sekarang jadi album pertama 70sOC.
Musik Indiependent itu luas ya. Apa yang membuat kalian memilih funk sebagai karakter karya musik ?
Peluang sih sebenarnya, kaya dulu itu scene itu memaksa kita secara alam bawah sadar ga ada yang main musik trio, dan nama-nama Gugun Blues Shelter itu belum terlalu besar. Kita liat diluar bandung juga banyak, cuma sampe sekarang pun tetap ngeliat peluang juga sih. Band blues trio itu sebenarnya sudah banyak, saya ga mau sama seperti yang udah-udah.
Jika secara subyektif tak ada salahnya kalian memilih genre tersebut. Namun apakah masih relefan dengan kuping penikmat musik saat ini ?
Justru saya pikir materi musik kami lebih pop, lebih easy. Kalau sekarang penawarannya banyak, bisa dengerin solo piano, terompet jadi bisa lebih lebar lah. Dan memang diniatin seperti itu, pendengarnya lebih lebar dan ga cuma gitu doang.
Kita memutar waktu sebentar. Kemunculan kalian yang didasari dengan kehadiran mini album bertajuk Supersonicloveiscated, unsur musik seperti apa yang hadir dalam mini album itu, serta tema yang diangkat seputar apa saja ?
Sebenarnya masih funk/blues rock sih, tapi dibandingin yang dulu sekarang itu lebih kental. Ya blues rock aja sih, ya Jimi Hendrix nya masih kental gitu lah. Nah kalau dari segi lirik itu masih sama ya jadi itu saya selalu suka musik-musik kulit hitam kaya Motown. Sebenarnya musik kulit hitam jaman dulu itu adalah musik pop, berbeda dengan musik sekarang mungkin lebih ke RnB, tapi jaman dulu itu musik kulit hitam ya musik pop dan itu yang merajai tangga nada di radio. Disitu mereka berbicara soal perasaan dalam bentuk ekspresi, dari dulu sampe sekarang saya juga ngomongin hal seperti itu. Sebenarnya di supersonicloveiscated ini penyempurnaannya di album Electric Love.
Jarak antara 2011 hingga 2017 mengenai perilisan materi kalian. Apa yang membuat album electric love terbilang lama perilisannya, bisa diceritakan ?
Pertama ga ada manajer yang pastinya. Jadi sebenarnya Electric Love itu sebagian materinya adalah materi yang sudah siap di jaman supersonicloveiscated sudah ada materi yang telah siap untuk album penuh. Tapi dulu ada ide, pengen ngeluarin yang udah ada aja dulu jadi materi setengahnya ini gk dikeluarin, dan materi ini digarap ulang di Electric Love. Didalam album Electric love itu ada 4 lagu dengan bahasa Indonesia.
Untuk penggunaan bahasa Indonesia di beberapa materi album Electric Love ini, apakah ada permasalahan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebelumnya dalam membuat lagu ?
Ya jelas banget, Sebenarnya saya bisa bilang ga ada band funk Indonesia di tahun 70’an menggunakan bahasa Indonesia. Kendalanya itu dulu seperti sekarang bikin musiknya itu asik banget, tapi nyanyi nya gimana ya susah banget. Bahkan setelah rilis single “Nongkrong 70” banyak orang yang bilang tidak cocok 70sOC nyanyi pakai bahasa Indonesia, mending bahasa inggris aja. Argumen saya, mereka ga biasa dengerin lagu funk. Terus kesulitannya yang lain itu adalah bagaimana sih loe nulis lirik bahasa Indonesia itu, mau lugas atau puitis kaya Efek Rumah Kaca, Barasuara, atau Sore. Atau mau bermain kata-kata kaya Komunal, The Upstairs gitu dan saya lebih memilih yang kedua santai aja gitu. Cuma intinya sekali dengar, orang langsung related. Salah satu basicly itu juga pemenggalan kata, waktu rekaman kaya misalkan ‘ini pemenggalannya gk enak, ya mau giman dan ga ada yang tau juga’. Ya akhirnya udah aja kaya sekarang gini.
Dimulai dengan single ‘Nongkrong 70’. Kalian ingin menangkap gaya dan trend subkultur anak di tahun 70’an. Bisa diceritakan lebih jelas mengenai single ini ?
Sebenarnya ada yang lebih dalam dari pada itu sih. Ya intinya itu sebenarnya adalah, trend itu kan berputar ya, terus di anak muda di jaman generasi saya 90’an adalah generasi yang mencoba beda dari generasi lainnya. Mungkin om-om kita yang besar di tahun 80’an main plat udah basi bagi mereka tentang vinyl gitu kan. Kaya saya yang besa ditahun 90’an yang cenderung dekat dengan CD, atau lainnya kini telah main plat piringan hitam. Nah di jaman sekarang, orang yang besar di tahun 80’an itu liat kita main plat, mungkin pada era mereka rilisan itu dibuang-buang atau bukan menjadi hal yang lumrah lagi. Ya sebenarnya lagu ini itu emang pengen menangkap jaman aja sih, dan berusaha ngomonin jaman juga.
Comments (0)