Arkana, Kebyar Kebyar, dan Mengapa Harus Indonesia

Arkana, Kebyar Kebyar, dan Mengapa Harus Indonesia

Masih dalam atmosfer Hari Musik Nasional, beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia pernah dibuat terpaku dengan grup musik asal Inggris, Arkarna, yang dengan ‘gagah’-nya membawakan lagu Indonesia berjudul “Kebyar-Kebyar”. Namun, hal tersebut bagi beberapa orang dianggap sebagai sesuatu yang kurang positif.

Apalagi, banyak komentar yang bermunculan bahwa seringnya tingkat kedatangan mereka ke Indonesia karena karirnya sudah mulai meredup. Tak lupa, mereka juga dianggap memiliki kedekatan secara politis dengan salah satu capres ketika Pemilu 2014, yang mana hal ini disayangkan mengingat mereka adalah seorang musisi, dan mereka sendiri mengakui bahwa pelaku musik harus sedikit menjaga jarak dengan politik karena akan menimbulkan percikan yang sensitif.

Kasus tersebut sampai saat ini memang tak ada habisnya untuk diperdebatkan. Namun meski demikian, ada baiknya juga bagi kita untuk mempelajari makna lagu Kebyar-Kebyar terlebih dahulu. Sehingga pada akhirnya nanti, kita bisa mengaitkannya dengan kiprah Arkarna dan bagaimana tanggapan masyarakat Indonesia terhadap band yang satu ini.

Lagu ini pada awalnya dibawakan oleh Gombloh, seniman besar Indonesia. Liriknya amat membakar semangat mereka, dengan salah satu kutipannya sebagai berikut:

“Biarpun bumi bergoncang

Kau tetap indonesiaku

Andaikan matahari terbit dari barat

Kaupun tetap indonesiaku”

Di mana pergerakan berada, lagu tersebut menjadi ode atas daya juang seorang nasionalis Indonesia. Karena meski hanya sebatas lagu, tapi liriknya sangat puitis dan dapat menjadi senjata untuk para korporat yang tak cukup bertanggung jawab bagi Indonesia, agar mereka semua introspeksi. Namun apa jadinya, kalau misalkan band luar tanah air membawakannya lalu mereka dikenal sering tampil di panggung-panggung kampanye politik? Apalagi, mereka terbilang sering datang ke Indonesia.

Ya, hal tersebut ada pada Arkarna. Grup yang kini diperkuat oleh Ollie Jacobs (vokal, keyboard) dan Matt Hart (guitar) tersebut, bibentuk oleh Ollie Jacobs di Inggris pada pertengahan 1990-an dan memulai debutnya pada tahun 1997 dengan album Fresh Meat. Awalnya, Arkarna tampil dengan kiprah yang cukup potensial serta mencoba untuk menduplikasi kesuksesan transatlantik dari rekan-rekan seperti the Prodigy dan Chemical Brothers. Apalagi, Jacobs bisa dibilang telah berpengalaman sebagai seorang engineering dan produser di ayahnya London studio, Rollover, dari usia 14.

Seiring berjalannya waktu, karir mereka lantas tak seterang teman seangkatannya seperti the Prodigy dan Chemical Brothers. Momen kedatangannya ke Java Rockin’ Land pada tahun 2010 pun, menjadi titik awal keakrabannya dengan tanah air.

Seiring berjalannya waktu, kedekatan mereka mulai lengket bahkan sampai ke ranah politis. Masyarakat Indonesia tahu bahwa Arkarna (atau para personilnya) memberi dukungan pada Jokowi saat Pemilu 2014 dan lewat salah satu pemberitaan, Matt Hart pernah mengkritik sikap Prabowo yang tak bisa menerima kekalahan. Berkomentar memang bebas dilakukan dan tak salah pula, namun yang jadi pertanyaan adalah: memang mereka itu siapa?

Hal tersebut lantas berlalu. Masuklah tahun 2015, di mana para personil Arkarna yang merasa cemas (atau mungkin karena faktor lain) dengan kondisi peredaran obat-obatan terlarang di Indonesia, mendapat perhatian dari BNN. Mereka pun segera menggubah “Kebyar-Kebyar” dengan tujuan demi mengkampanyekan anti-narkoba. Hal ini disanjung oleh banyak masyarakat Indonesia. Meski demikin, namun lagi-lagi pertanyaan yang sama pun terlontar: memang mereka itu siapa?

“Indonesia memilih kami” ujar Ollie, mengutip dari wawancaranya dengan  Rolling Stone Indonesia. Banyak yang beranggapan bahwa seringnya Arkarna ngepos di Indonesia adalah karena negara kita menyukai kiprahnya, meski tak sedikit pula yang menjadi haters. Namun, jika mereka saja bisa memposisikan dirinya seolah warga negara Indonesia, mengapa masyarakat aslinya sendiri tak mampu? Sekalipun duo Ollie dan Matt ini hanya turis asing yang memilih Indonesia sebagai peristirahatan Arkana di usia senja, namun insiatif mereka untuk menggubah “Kebyar-Kebyar” patut diakui.

Sisanya seolah hanya pencitraan serta atas dasar pundi-pundi belaka. Soal mereka yang mencintai Indonesia, menginginkan pemimpin yang baik untuk negara kita, ataupun menganggap tingkat pecandu narkoba di Indonesia ini sudah menjadi hal yang urgen untuk mereka kampanyekan, rasanya perlu dipertanyakan lagi. Arkarna bukan siapa-siapa bagi kita, karena sederet band tanah air pun nyatanya banyak yang lebih bagus dari mereka. Karena bukan siapa-siapa, seharusnya band seperti mereka tidak usah diperlakukan secara khusus oleh negara; apalagi sampai digubris oleh calon presiden pada saat itu.

Kita bebas berpendapat, baik itu tentang simbol Indonesia lewat “Kebyar-Kebyar” hingga eksplorasi Indonesia yang dilakukan oleh gerilya duo asal Inggris, Arkarna. Namun balik lagi, karena suasanya masih Hari Musik Nasional: kemanakah pamor mara musisi tanah air sendiri? Tentu dong, kita tak boleh kalah dengan pendatang dari luar. Jadi, bagaimana pendapat kalian?

*Diolah dari berbagai sumber

Foto: net

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner