Artefak Kreatifitas Dari “Tiga Anak Bengal”, Superkid

Artefak Kreatifitas Dari “Tiga Anak Bengal”, Superkid

By : Kontributor

Perkembangan musik rock di negara barat (Amerika dan Eropa) berimbas juga ke Indonesia. Bak jamur yang tumbuh di musim hujan, band-band pun bermunculan. Gaya para musisi rock luar diadaptasi oleh para anak-anak muda Indonesia pada saat itu. Dengan berpenampilan rambut gondrong, celana cutbrai, celana kulit, baju ketat, lusuh menjadi identitas anak-anak muda di era saat itu.

Pada  era ’70-an dalam blantika musik Indonesia adalah suatu berkah yang menjadi penanda zamannya.  Salah satu band rock yang terkenal pada tahun 70-an adalah Superkid. Supergrup yang digawangi oleh Deddy Stanzah (bas, vokal), Deddy Dores (gitar, vokal), dan Jelly Tobing (drum), melenggang lewat album pertama mereka “Trouble Maker” (1977) dan berhasil menghasilkan beberapa album lainnya.

Mereka keluar dari arus utama industri musik dengan berani tampil berbeda. Dengan berani memainkan musik yang tidak lazim untuk konsumsi panggung. Semangat berapi-api, kegembiraan bermusik yang biasa dinikmati bersama penonton di pentas musik mereka alihkan juga ke dalam format album.

Grup asuhan Denny Sabri yang menuai masa keemasan pada Tahun 1976-1977 ini, mengundang rasa penasaran kawula muda pada saat itu. Dimana-mana para remaja di seantero Indonesia terkena wabah Superkid terutama di Bandung,  Jawa Barat juga Jakarta.

Aksi panggung yang menjadi trademark Superkid adalah hampir disetiap pertunjukannya mereka memulai dengan menembakan dry ice ke drum set Jelly Tobing disusul dengan tembakan lampu warna warni dari lighting system yang apik disertai dengan kepalan tangan yang disilangkan oleh Deddy Stanzah untuk menyapa penonton.

Tidak ketinggalan mereka selalu menampilkan aksi panggung yang sensasional dari gaya panggung Deddy Stanzah memikat penonton dengan accent Inggrisnya yang nyaris seperti bule. Deddy Dores yang dalam aksinya kerap menghantam gitar yang dimainkannya ke sound system hingga patah berkeping-keping. Sang drummer pun, Jelly tidak kalah gilanya di setiap show. Dia selalu menghamtamkan stick drum-nya kederetan drum yang mengelilinginya sampai stick itu patah bahkan drum yang dia mainkan tidak jarang sampai jebol.

Yang menakjubkan, order manggung Superkid terhitung lebih dari 20 kali manggung  dalam sebulan. Mereka adalah “Tiga Anak Bengal” yang dianggap sebagai generasi pertama pemusik cadas Indonesia yang penuh bakat dan inovatif. Tidak lupa peran majalah ”Aktuil” yang ikut membantu publikasi secara terang-terangan dalam setiap show Superkid.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner