Atas Nama ‘Orang Desa’, Ismam Saurus Bukan Album Kelima
Sumber foto : Diambil dari rilisan pers Ismam Saurus
‘Orang Desa’ dari Ismam Saurus menjadi sebuah album yang mengundang seluruh pasang telinga di seantero negeri untuk melihat Indonesia dari sudut pandang “Orang Desa”
Lahir dan tumbuh besar di Kota Lumajang, Jawa Timur, Ismam Saurus adalah seorang musisi, penyanyi dan penulis lagu. Dia mulai menapaki karir berkesenian pada tahun 2012. Kelenturannya dalam meramu folk, country, pop dan rock lewat lagu-lagunya yang bernas, banyak menceritakan kehidupan pedesaan, isu lingkungan, sosial dan politik.
Hal-hal yang diangkat cukup membuat kuping melirik dan menyimak baik-baik apa pesan yang disampaikan oleh musisi yang sudah merilis lima album ini. Pluvia (2015) , Nano (2020), Dari Sebuah Malam DI Era Mati (2020), Gembala (2021) dan beberapa single seperti “Laron”, “Tidak Ada Judul” dan ”Mati Bosan” ini.
Dikelilingi pesona pariwisata alam nan asri seperti gunung dan air terjun tidak juga membuat Lumajang terlihat seperti surga. Memang Lumajang dianugerahi Bupati yang tegas dan amanah, namun masalah pungli dan korupsi seperti kasus terkini yang menyeret dua pejabat Dinsos Lumajang masih mewarnai daerah tersebut. Tema kehidupan desa yang tidak hanya didominasi keindahan alam namun juga kompleksitas politik, sosial dan lingkungan di Lumajang yang menjadi pengaruh besar dalam penulisan lagu-lagu Ismam Saurus.
Hal inilah yang mendorong Ismam Saurus terus mencipta karya bersuara lantang akan realitas yang ada di kampung halamannya. Coba dengarkan bagaimana ia dengan luwesnya menyingkap sisi-sisi tentang desa lewat lagu, “Cangkul Dan Sabit”, “Si Miskin”, “Gembala”, “Pembangunan” yang merupakan sentilannya tentang penggusuran dan hilangnya area hijau atas nama kemajuan dan pembangunan. Lalu tentu saja tembang “Orang Desa”, yang menjadi gambaran jujur kehidupan pedesaan, atau bisa dibilang “folk” atau merakyat yang otentik.
Para perantau yang berjibaku dalam peraduan pun tak luput dari Ismam Saurus yang memberikan sebuah lagu berjudul “Tinggal di Jakarta”; syair keresehan orang desa terhimpit beton dan neon di tengah ingar – bingar kota besar. Hal-hal yang menjadi topik lirik dapat dibilang menarik. Ada tema besar yang bisa ditangkap, namun tetap benang merahnya yaitu orang desa.
Meski begitu, pada kenyataanya tidak semua lagu mengandung tema atau penggambaran orang desa melulu, Ismam sendiri termasuk musisi yang sangat peka terhadap keadaan sosial, banyak lagu-lagu tercipta karena kegelisahannya akan peristiwa yang terjadi disekitar.
Seniman rakyat terbaik kebanggaan Lumajang ini konsisten tak hanya membawakan lagu-lagu cinta yang mendayu-dayu hanya berkutat di persoalan cinta saja, tapi juga lagu yang membawa pesan moral tentang kepedulian lingkungan, kemerosotan moral dan beragam kritik sosial lain.
Berformat digital, album kelima dari solois asal Lumajang yang dijuduli Orang Desa ini direkam di Lumajang, diproduseri kawan sendiri dari sang musisi bernama Gahtan, kawannya yang lain bertugas sebagai teknisi suara bernama Viky Yonata, dimixing serta mastering oleh kawan satunya lagi, Dipo biasa ia dipanggil. Ismam Saurus memanfaatkan waktu-waktu panjang PPKM selama November 2020 sampai Oktober 2021 untuk menyelesaikan album ini. Memang hikmahnya pengetatan mobilitas, orang lebih banyak mempunyai waktu untuk di rumah dan berkarya.
Sembah sujud disematkan kepada para pahlawan folk yang menginspirasi; Bob Dylan, Johnny Cash, Iwan Fals dan sederet kesatria bergitar kopong sejenisnya. Ismam saurus pun bukan musisi yang antipati terhadap pengaruh musik-musik modern. Pula, tidak menutup pengaruh musik lain seperti band pop The Beatles yang selalu mampu membuat lagu-lagu catchy dan populer. Berkat mereka pulalah rangkaian cerita dari album Orang Desa bisa terwujud. Sebuah album yang menceritakan suka duka kehidupan di desa yang sederhana namun cukup kompleks.
Seperti kata Ismam Saurus, “Sejatinya desa adalah nyawa dari Indonesia”. Mengutip perkataan dari Presiden RI pertama Indonesia, Ir. Soekarno “Jikalau aku melihat wajah anak-anak di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar “Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!” Aku bukan lagi melihat mata manusia Aku melihat Indonesia.”.
Dalam naungan Comforting Sounds selaku label, Ismam Saurus ingin mengajak pendengar di pelosok negeri untuk melihat ‘Indonesia’ lebih intim dan apa adanya dari kacamata ‘Orang Desa’.
Comments (0)