Berbisnis Musik : Cara Lain Musisi ‘Menjual’ Musik

Berbisnis Musik : Cara Lain Musisi ‘Menjual’ Musik

Rubrik “Berbisnis Musik” dibuat untuk mengupas lebih jauh tentang ‘bisnis’ seorang musisi di luar ‘jobdesk’ utamanya sebagai pembuat karya dan penampilan dalam setiap panggung yang melibatkannya

Tahun 2021 ini ada yang berbeda dengan website DCDC. Salah satunya tentang rubrik “Berbisnis Musik”. Rubrik ini dibuat untuk mengupas lebih jauh tentang ‘bisnis’ seorang musisi di luar ‘jobdesk’ utamanya sebagai pembuat karya dan penampilan dalam setiap panggung yang melibatkannya, atau bahkan bukan seorang penampil, namun kiprahnya berhubungan erat dengan dunia musik.

Beberapa diantaranya ada yang memiliki label rekaman, studio musik, beat maker, guru vokal extreme, artworker, berdagang aksesoris musik, hingga merambah bisnis clothing line (yang juga berhubungan erat dengan musik).

Salah satu kisah yang menarik untuk diangkat ke permukaan adalah Ferly ‘Jasad’, lewat label rekaman yang dibidaninya bernama Rottrevore Records. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Addy Gembel, Ferly mengaku jika Rottrevore Records berasal dari sebuah media cetak Rottrevore Magz yang didirikan pada tahun 1999 oleh Dwinanda Satrio ‘Rio’ (gitaris Bloody Gore, Disinfected), Ferly (gitaris Jasad), dan Andre Tiranda (gitaris Siksakubur). Media ini adalah sebuah media cetak dengan format majalah yang fokus membahas dunia musik extreme metal yang diterbitkan di kota Bandung, dijual dan sebarkan secara gerilya memanfaatkan jejaring komunitas musik ekstrem yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Sedangkan Rottrevore Records berdiri secara resmi pada tahun 2001 di Jakarta, berbarengan dengan peluncuran album dari band Bloody Gore, Stench of Your Perversions. Pada tahun berikutnya, ada banyak band extreme metal yang akhirnya bergabung di bawah kendali Rottrevore Records. Nama-nama besar, seperti Jasad, Viscral, Trojan, Death Vomit, Siksakubur, Dead Vertical dan Forgotten tercatat pernah ada di bawah naungan Rottrevore Records.

Ingin meluaskan bisnisnya di dunia musik, Ferly juga menuturkan ingin membuat semacam agensi yang memfasilitasi band untuk bisa menggelar tur. Membuka peluang market juga menjadi prioritas, salah satunya berencana merilis salah satu band dari India sebagai bagian menyasar market di kawasan Asia. Selain itu, Rottrevore Records sedang menggarap kompilasi band brutal death metal dari Indonesia.

Dari Ferly beralih ke studio musik, Fun House yang dibuat oleh Edo Jatmika. Bermain band, membuat album lalu lanjut dengan tur panjang adalah cita-cita yang diidamkan oleh Edo pada awal tahun 1990. Keputusan yang jelas mendapat tentangan keras dari kedua orang tuanya yang berharap Edo bisa terus melanjutkan jenjang pendidikan formal. Namun tekadnya sudah bulat untuk serius di dunia musik, sampai akhirnya pada tahun 1993 Edo pergi meninggalkan Bandung dan hijrah ke kota Solo. Disinilah hasrat Edo terhadap musik dapat terlampiaskan dengan membentuk sebuah band beraliran metal dan sempat menjadi band pembuka band Dewa 19 ketika tampil di Gor Bengawan. Target yang ingin dicapai Edo kala itu adalah menjajal kerasnya industri musik mainstream dan pilihannya adalah pindah ke Jakarta, bersama band yang didirikannya bernama Lovina.

Namun nasib mujur sedang tidak berpihak pada Edo. Tahun 1998, saat terjadi gelombang kerusuhan yang meluluhlantakan kota Jakarta. Salah satu lokasi terjadinya aksi pembakaran adalah kawasan pertokoan Glodok di mana gudang master rekaman album Lovina disimpan ikut terbakar. Mimpi menjadi rockstar dan bisa membuktikan pada orang tua akhirnya kandas.

Setelah kenyang menimba ilmu sambil bekerja di Jakarta akhirnya tahun 2000 Edo kembali ke Bandung. Melanjutkan apa yang telah dilakukan di Jakarta Edo mendirikan Fun House Studio. Sebuah studio kecil yang awalnya diperuntukan mengerjakan proyek musik secara pribadi. Meneruskan relasi bisnis dengan kawan-kawan yang pernah bekerjasama menggarap rekaman ketika masih di Jakarta. Berawal dari sinilah Edo bersama bisnisnya mulai beririsan dengan komunitas musik di Bandung yang didominasi oleh musik-musik ekstrim seperti death metal, hardcore dan punk.

Jatuh bangun Edo menghidupkan studio tersebut tentunya tidak terelakan lagi. Bahkan Edo mengaku sejak tahun 2012 jika dilihat dari kacamata bisnis, studio Fun House itu sudah harus tutup.  Tapi karena Edo merasa jiwa dan hasratnya ada di dunia ini akhirnya Studio Fun House tetap bertahan hadir selama 20 tahun dan melayani konsumen hingga hari ini.

Dari label rekaman, studio rekaman, penelusuran DCDC tentang bisnis para musisi ini kemudian terhubung dengan Jay Dawn, dari kolektif hip hop Eyefeelsix, yang kemudian dikenal sebagai seorang beat maker. Berawal dari ketertarikannya dengan hip hop Jay kemudian memutuskan berhenti bekerja dan memilih membentuk grup hip-hop bernama D’Army bersama Gaya yang sekarang juga bersamanya di Eyefeelsix. Dari sinilah bakat Jay sebagai beat maker makin terasah.

Dengan modal komputer pentium empat hasil pemberian orang tua dan mengandalkan perangkat lunak Fruity Loops 4, Jay mulai bereksperimen membuat musik. Dengan teknik "mencuri" potongan suara instrumen dari beberapa band, seperti Slayer, Max Cavalera Conspiracy dan Led Zeppelin, Jay memulai petualangan baru sebagai seorang beat maker.

Apa yang dilakukan Jay menarik perhatian Ucok Homicide kala itu, hingga akhirnya Jay dipercaya untuk menjadi produser musik untuk D’Army. Melalui banyak diskusi bersama Ucok, Jay mengaku mendapakan banyak masukan dan referensi yang berharga terkait dengan cara memproduksi musik di ranah hip-hop, seperti bagaimana pentingnya sebuah tema dan memperluas eksplorasi di ranah musik lain. Perlahan, Jay mulai serius berdagang musik dan mulai mendapatkan konsumen di lingkar komunitas. Sebagian penghasilannya ditabung untuk upgrade peralatan produksi musiknya.

Proyek selanjutnya, Jay mencoba petualangan di ranah musik pop, ketika dipercaya untuk membuat album remix band Efek Rumah Kaca yang berjudul ERK RMX. Selain menggarap beat untuk beragam jenis musik, Jay juga kerap mendapatkan order untuk proyek musik iklan dan jingle produk. Menurut Jay, dia selalu membangun jejaring dengan siapa saja, baik entitas komunitas maupun entitas korporat.

Bersambung

BACA JUGA - Parodi : Trik Menarik Dalam Bisnis Kaos Musik

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner