Bincang-Bincang bersama Riri “Semiotika”
Jumat (4/12) kemarin, Semiotika - trio post rock/instrumental asal Jambi yang beranggotakan Billy Maulana (gitar), Riri Ferdiansyah (bas) dan Yudhistira Adi Nugraha (drum) menggelar showcase promo album perdana mereka, “Ruang” di Klub Racun. Kota Bandung sendiri merupakan titik ke-2 dari bagian gelaran “Semiotika Gelombang Darat Tur Jawa”. Sebelum bertolak ke Yogyakarta esok harinya, kali ini saya sedikit chit-chat bersama Riri disela-sela acara.
T : Halo Riri! Apa kabar? Oh ya, sebelumnya perkenalkan diri dulu dong
J : Halo, alhamdulillah baik. Saya Riri bassist dari Semiotika. Sebelumnya terima kasih ya udah mau interview kita. Saya senang dapat banyak teman dan keluarga baru selama tur ini.
T : Ceritain dong gimana proses kalian saling bertemu dan terbentuk Semiotika!
J : Tahun 2014 kita bertiga sering berkumpul dan mendirikan usaha warung kecil-kecilan di Jambi. Awalnya, cuma iseng-iseng aja karena sering jamming bareng dan akhirnya kita memutuskan untuk membuat band.
T : Kenapa memilih post-rock? Bisa ceritain proses music making kalian?
J : Jujur, sebenernya kita males bikin lirik hahaha berawal dari jamming bareng yang kita rekam dan menemukan titik kesamaan di segi instrumen. Dan keesokan harinya langsung kita rekaman di studio.
T : Semiotika itu memiliki arti simbol. Kenapa pilih nama Semiotika? Memangnya simbol/pesan apa yang mau kalian tunjukin?
J : Iya, benar. Musik adalah simbol kami, kami bercerita lewat musik mau itu perasaan senang, gembira, sedih, marah, kecewa. Kita dedikasikan perasaan yang kita alami, lihat dan dengar di Jambi ke dalam bentuk sebuah lagu
T : Siapa sih major influence Riri dalam berkarya dan memutuskan untuk bermain bass?
J : Banyak sih yang menginspirasi kalo band, soalnya saya enggak terpaku di satu genre aja. Kalo yang menginspirasi saya untuk bermain bass ya kaya Michael Manring sama Jaco Pastorious.
T : Album “Ruang” ini sebenernya ada berapa trek? Terus apa aja lagu wajib yang selalu dibawain live?
J : Di album “Ruang” sendiri berisi 7 track. “Tunggu Terpejam” adalah lagu menu wajib yang selalu kami bawakan, biasanya sengaja kami simpan di akhir soalnya slow dan lepas. Selain itu, ada juga “Ruang” dan “Gersang”.
T : Biasanya judul kan diambil berdasarkan lirik. Bisa jelasin gimana sih cara nentuin judul buat musik tanpa lirik?
J : Awalnya kita milih judul dengan bahasa Inggris, cuma agak kurang “ngena”. Jadi akhirnya, kita milih bahasa Indonesia aja yang sesuai. Kita meresapi perasaan yang kita alami dan rasakan di Jambi dan terbentuklah sebuah judul. Misal, kita melihat sekeliling Jambi yang udah dipenuhi asap, nah, dari situ terbentuklah “Harusnya Hijau” dan keadaan Jambi yang sudah “gundul” tidak ada tanaman, dari situ terbentuk “Gersang”.
T : Oke, pertanyaan terakhir, ada advance buat mereka yang mau buat band seperti Semiotika?
J : Berani aja, jangan takut dibilang aneh. Supaya band-band di Indonesia terus berkembang dan banyak bermunculan band-band baru lagi.
Terima kasih atas waktunya, Riri. Semoga tur-nya berjalan lancar dan selamat sesampainya kembali lagi di Jambi. Have a safe trip!

More information about Semiotika:
https://www.twitter.com/semiotika_
https://www.soundcloud.com/semiotikajambi
https://semiotika.bandcamp.com
Comments (0)