Blockflöte Si 'Seruling Jerman'
by: Bobby Agung Prasetyo
Eropa juga memiliki peran dalam mengembangkan seruling. Di Jerman, alat musik tiup ini disebut Blockflöte, yang merupakan hasil perpaduan dari jenis suling dan sudah dimainkan di Eropa sejak sebelum Masehi, serta pengaruh seruling lain yang berasal dari Eropa Timur, Afrika dan Asia. Blockflöte mencapai masa jayanya di zaman kebudayaan Renaissance dan Barok, yaitu sekitar tahun 1500 hingga 1750. Kira-kira abad ke 18 jenis suling ini tergeser dari orkestra oleh jenis suling lain. Baru di akhir abad ke 20 jenis suling ini kembali banyak dimainkan, dan menjadi instrumen paedagogis.
(Jerman Blockflute)
Kemungkinan besar seiring dengan kolonisasi negara-negara Eropa di masa lalu, suling jenis ini juga menyebar ke negara-negara lain, di antaranya Indonesia. Sudah sejak awalnya, "Blockflöte" selain dimainkan secara solo, kerap juga dimainkan dalam satu kelompok. Jadi seperti halnya dalam paduan suara, ada suling sopran, alto, tenor dan bas, sehingga disebut "Blockflöten familie" atau keluarga suling.
Apa kabar Indonesia? Ya, negara tercinta kita ini merupakan sebuah negara dimana bambu tumbuh dimana-mana, dimulai dari Sabang di sebelah barat dan Merauke di sebelah timur. Oleh karena itu, pengrajin di Indonesia pun pandai membuat alat musik tiup ini sendiri, dengan bahan utama bambu. Seruling biasanya dimainkan di acara tradisional. Lagu dangdut tanpa seruling, ibarat laut tanpa ombak. Musik keroncong disela-selanya pasti diramaikan dengan suara liukan seruling. Namun beberapa tahun terakhir ini musik tradisioanal mulai ditinggalkan. Terlepas dari apakah seruling merupakan suatu alat yang menyatu dengan budaya setempat atau alat musik universal, seruling hingga detik ini dinilai merupakan salah satu instrumen yang harus diperhitungkan untuk dilestarikan di Indonesia.

*diolah dari berbagai sumber
foto: istimewa
Comments (1)