Bottlesmoker Bicara Tentang Musik Tradisi, dan Kenapa Mereka Anti EDM

Bottlesmoker Bicara Tentang Musik Tradisi, dan Kenapa Mereka Anti EDM

Ketika ditanya tentang sejauh apa eksplorasi musikal Bottlesmoker, agar seimbang dengan pakem-pakem musik tradisi yang sudah ada, Nobie menjawab jika untuk mengaplikasikannya mereka mencoba semampu yang mereka bisa, seperti contohnya pada pola di ritual Bonet, dimana mereka nyanyi bersama secara repetitif, yang tanpa disadari pola-pola itu punya tempo yang konstan meskipun tanpa metronom. Dari sana Bottlesmoker membaca temponya, dan hal itu dijadikan patokan jika temponya tidak boleh lebih dari yang sudah ritual tersebut pakemkan.

Angkuy menuturkan jika dua hal yang menjadi ciri dari musiknya Bottlesmoker itu terletak pada beat, dan synth yang mereka mainkan hingga membentuk mood lagunya itu sendiri. “yang saya ingat ada di salah satu lagu yang judul ritualnya itu ratapan, dimana setiap hari Minggu, ibu-ibu di daerah Sumba itu berdoa atau seperti curhat ke Tuhan lah, tapi lewat nyanyi, dengan tempo yang pelan, dan pembawaan tone-tone nya itu selalu sedih. Hal itu kita tangkap spirit-nya seperti berserah diri atau kesedihan itu tadi. Sampai akhirnya hal tersebut kita aplikasikan dengan tone-tone nada yang mewakili mood kesedihan itu”.

“Terus karena ritual ini sifatnya seperti memohon ampun, kita cari temponya yang memang menangkap mood akan hal tersebut, dan itu tidak mungkin dengan tempo yang cepat, karena kan tempo cepat biasanya lebih ke motivasi, aktraktif, semangat, makanya temponya pelan. Darisana kita juga menemukan formula tempo, seperti contohnya dengan tempo 90, yang bisa membuat aliran darah lancar dan lebih rileks. Hal seperti itu kita pelajari juga dari rumusan-rumusan psikologi musik”, ujar Angkuy.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner