Cerita Bernada Dalam Metafora Gadis Dan Hujan

Cerita Bernada Dalam Metafora Gadis Dan Hujan

KarnaTra lewat lagu "Gadis Hujan", menyuguhkan perwujudan seorang gadis lewat metafor hujan. Sedangkan Weekenders Agogo menjadikan hujan sebagai objek. Gadis dan hujan disini terpisah, dan tidak ada dalam tubuh yang sama. 

Gadis dan hujan. Dua hal yang menarik perhatian band Weekenders Agogo dan KarnaTra, untuk menjadikannya sebuah isian lagu. Uniknya, keduanya mempunyai sudut pandang lain, dan mungkin bisa dikatakan bertolak belakang, jika dilihat dari judul maupun isian lagunya. KarnaTra hadir dengan lagu berjudul “Gadis Hujan”, sedangkan Weekenders Agogo menyuguhkan lagu berjudul “Gadis Pembenci Hujan”. Hal ini seolah mengingatkan pada band Forgotten dan Beside, ketika keduanya hadir dengan lagu “Aku Adalah Tuhan”, dan “Tuhan Telah Mati”. Keduanya seperti bersahutan dengan judul lagu yang terbilang kontroversi, dan menjadi paradoks lewat sudut pandang yang mereka ambil dalam sebuah lagu.

Kembali ke Gadis dan Hujan. Hujan sendiri merupakan tema yang cukup banyak dijadikan sebagai isian sebuah lagu. Lalu ketika menghubungkan itu dengan kata gadis, jadi menambah sudut pandang tersendiri, dan menguatkan struktur cerita yang dibuat. KarnaTra mengambil sudut pandang sang gadis, ketika air mata yang jatuh dari kedua matanya, merupakan gambaran hujan yang menenangkan, dalam perspectif si pembuat lagu. Sedangkan Weekenders Agogo lewat padanan lirik “gadis pembenci hujan gelisah dengan mendung yang menyapa”, bercerita tentang hal traumatik sang gadis tentang asmara. Mendung disini digambarkan jadi sesuatu yang ingin masuk ke dalam diri sang gadis, namun sang gadis menolak karena ketika mendung menjadi bagian dari dirinya, maka cerita berikutnya akan menjadi hujan. Sedangkan hujan disini adalah kisah asmara itu sendiri, yang cukup keras ditolak sang gadis karena hal traumatik itu tadi.

KarnaTra lewat lagunya menjadikan hujan sebagai subjek, “Gadis Hujan” dalam versi karnaTra adalah perwujudan seorang gadis lewat metafor hujan. Sedangkan Weekenders Agogo menjadikan hujan sebagai objek. Gadis dan hujan disini terpisah, tidak ada dalam tubuh yang sama. Hujan jadi sesuatu yang si gadis tidak suka, karena hujan menurut sang gadis adalah perwujudan dari asmara, yang karena nya dia menjadi trauma.

Kenapa kedua band ini seolah ‘bersahutan’ lewat lagu yang mereka suguhkan? Mungkin tidak ada unsur kesengajaan juga sebenarnya. Apalagi mengingat kedua lagu itu punya latar belakang musik yang berbeda, antara indie-pop dan reggae. Hal-hal seperti gadis dan hujan, seolah melengkapi sajian lagu-lagu dengan tema serupa, semisal band Efek Rumah Kaca, lewat lagu Desember nya, yang menyisipkan kata hujan dan pelangi. Dimana keduanya seperti satu keutuhan cerita selepas hal buruk yang terjadi. Hal ini diterjemahkan lewat lirik “sampai nanti ketika hujan tak lagi menetekan luka, seperti pelangi setia menunggu hujan reda”.

Lalu apakah sang gadis hujan akan bertemu dengan gadis pembenci hujan? Mungkin jawabannya akan ditemui di lagu lain yang juga bercerita tentang hujan, dan hal-hal imajinatif yang lahir dari hujan.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner