Coklat History "Label-label Rekaman Mancanegara Yang Merilis Ulang Album Band Lawas Indonesia"
Walaupun seorang founding father bangsa ini, Bapak Ir. Soekarno ataua biasa disapa Bung Karno menolak mentah-mentah generasi musisi ngak-ngik-ngok. Tidak ada salahnya kita mengutip ungkapan legendaris beliau,”Jas Merah”. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, mungkin hal itu menjadi kata-kata yang tepat untuk artikel dibawah ini. Sebuah kata-kata yang seharusnya kita sebagai kaum muda nusantara merasa malu. Kenapa malu?malu karna (nyaris) sebagaian besar penikmat musik di tanah air dijejali musik-musik luar negeri. Seakan-akan melupakan bahwasanya sejarah musik bangsa ini pun tidak boleh serta merta dilupakan. Perangai malu, jadul, selera musik yang terlalau uzur menjadikan banyak kalangan menelan mentah-mentah infiltrasi musik luar dan menjadikannya idealisme sekaligus sumber inspirasi sehari-hari mereka dalam bermusik dan merasuk lugas dalam keseharian sikap mereka. Musik yang tanpa identitas!
Memang tidakdapat dipungkiri, bahwasanya musisi era 60-70an bangsa ini jura terinspirasi dari gerakan flower power generation dari Amerika dan Britania Raya. Namun seiring berjalannya waktu, banyak sekali dari musisi Indonesia yang ingin menonjolkan identitas seni budaya dari daerah-daerah di Indonesia yan terkenal dengan alat-alat musik tradisional dan meramunya dengan musik konvensional nan modern bangsa asing.
Berbicara menyoal eksistensi dari para musisi Indonesia era 60 sampai 70-an macam Koes Plus, Panbers, AKA, The Rollies, Dara Puspita, dan Shark Move memang tak usah diragukan kualitasnya. Musik mereka tak hanya menjadi raja di negeri sendiri, namun menjadi idola pula bagi kalangan penggiat musik di luar negeri sana. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya label-label jempolan internasional yang ternyata tertarik untuk mereproduksi album-album mereka yang tentunya sudah jarang kita temukan dipasaran. Ironis memang, band besar dari negeri sendiri tetapi dirilis oleh label luar bukannya oleh bangsa sendiri. Beberapa band yang disebutkan diatas merupakan akar rumput tonggak sejarah musik konvensional bangsa ini, dan sudah merupakan kewajiban kita untuk melestarikannya dalam bentuk idealisme, ciri khas, attitude, sampai ke ranah rekaman fisik original mereka. Mungkin hal ini bisa menjadi pelecut bagi pemerintah Indonesia agar kedepannya untuk lebih kritis dan lebih banyak lagi menaruh perhatian kepada musisi-musisi dalam negerinya. Terutama informasi dan sejarah perkembangan musk di dalam negeri. Perlunya sebuah wadah yang memayungi wilayah seni musik terutama dengan gagah berani dan bertanggung jawab penuh mengemban tugas yang sangat mulia tersebut.
Kembali ke pokok bahasan lima label luar negeri yang merilis ulang album-album kugiran cadas Indonesia era tahun 1960-1970an, Berikut adalah beberapa label mancanegara yang pernah merilis ulang album-album hasil kejeniusan band-band indonesia tersebut
1. Sublime Frequencies

Dalam blog Denny Sakrie, kami mengutip salah satu ucapan dari Alan Bishop, yang berkata bahwa kualitas dan visi pemusik Indonesia di era Orde Baru itu berhasil menginterpretasikan rock n roll produk Barat menjadi rock n'roll dengan cita rasa Indonesia. Itulah ungkapan dari sang pemilik Sublime Frequencies, Alan Bishop, menilai musisi Indonesia di era 60 - 70-an. Hal inilah yang menjadi satu alasan Bishop dan label rekamannya Sublime Frequencies, tertarik untuk mereproduksi beberapa rilisan band-band lawas Indonesia. Realisasi itu pun dibuktikan Bishop pada tahun 2010 dengan merilis album dari Dara Puspita, Koes Plus, dan Koes Bersaudara dalam bentuk CD, dan di tahun 2011 Sublime Frequencies kembali merilis album dari band-band tersebut dalam format vinyl/pringan hitam. Selain itu, saking tertariknya Bishop terhadap band-band lawas Indonesia, ia sampai membentuk sebuah band dengan nama “West Koes”.



2. Shadoks Record

Shadoks Record, adalah nama selanjutnya setelah Sublime Frequencies bersama Bishop, yang pernah mengeluarkan rilisan hasil karya band-band lawas Indonesia era 60 – 70-an. label asal Kota kecil, di Jerman ini pernah merilis ulang album dari Shark Move yang fenomenal kental dengan aura progressive rock ‘Chede Cokras’. Selain itu mereka pun pernah merilis ulang album dari Ariesta Birawa dan Guruh Gipsy pada awal 1977, namun sayang keduanya di reproduksi secara ilegal oleh Shadoks Records. Album Ariesta Birawa sebelumnya pernah diedarkan oleh Serimpi Record.




3. Moonjune Records

Moonjune Record merupakan salah satu abel asal Amerika Serikat, milik seorang pria keturunan Bosnia, bernama Leonardo Packovic . Mereka pernah merilis album dari kelompok etnik jazz asal Indonesia Simak Dialog dan Tohpati Ethnomission yang bertajuk “Patahan dan Demi Masa”. Moon June Record sendiri boleh dikatakan sebagai salah satu label idealis, karena mereka adalah label yang mengambil spesialisasi musik-musik berbau jazz, psychedelic, jazz kontemporer, dan avant garde musik.
4. Mellow Records

Sama halnya dengan Alan Bishop, Mauro Morini pun turut tergila-gila pada diskograpi milik band-band lawas tanah air. Pria Itali tersebut, bersama label miliknya, Mellow Record, telah merilis sebuah album dari kawanan progressive rock bentukan Iwan Hasan (gitaris rock kontemporer – RED), bernama Discus, pada tahun 1999.

5. Now Again Records

Setelah Shadoks, Mellow, Moonjune, dan Sublime Frequencies. Kini kita akan mengenal Now Again Records. Label asal Amerika Serikat ini, secara mencengankang merilis sebuah kompilasi sakral dari band-band beraliran pop, rock, psychedelic lawas era 70-an bertajuk “Those Shocking Shaking Days Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk 1970-1978.”, didalam kompilasi tersebut terdapat 20 lagu yang berasal dari Koes Plus, Panbers, Duo Kribo, Shark Move, Paramour, AKA, The Brim’s, Ivo’s Group, Murry’s Group, Superkid Gang of Harry Roesli, Golden Wings, Black Brothers, Freedom of Rhapsodia, dan Koes Plus.

Di satu sisi kita mengapresiasi tinggi atas dirilisnya album-album dari pionir kebanggaan kita warga negara Indonesia olerh kawan-kawan kita di luar negeri, namun sekali lagi kami sangat berharap agar rilisan-rilisan tersebut suatu hari nanti dirilis ulang oleh label dalam negeri dan (agar) mendapat tempat dan perhatian dari pemerintah Republik Indonesia dan seluruh pelaku sekaligus musisi serta penggiat-pekerja musik Indonesia. Semoga... Godspeed Indonesian Music Archipelago’s.. Untuk kebanggaan anak cucu kita di masa yang akan datang..
Baby Rock!!! -SAS-
Sumber : Berbagi Literatur
Photo : NowAgainRecords, Sublime frequerncies,Shadoks Facebooks, Mellow Records, Moonjune Recs.,http://dennysakrie63.wordpress.com/
(Septian Nugraha)
Linear Note “FL”
Comments (0)