Menggali Kedalaman Underground Yogyakarta (Part 2)
by: Bobby Agung Prasetyo

Peran berkembangnya skena underground sendiri tak lepas dari venue. Ya, satu hal penting yang saat ini sering dikeluhkan mulai dari masalah perizinan, ketatnya waktu, serta dipandang sebelah matanya kegiatan tersebut sehingga tak mendapat support dari pihak lain. Berbicara soal bawah tanah Jogya, kita tak bisa melupakan tempat macam Kampus ISI Gampingan, Purnabudaya, SMA 11 Jetis, Benteng Vredeburg, atau di venue-venue kecil di seputar jantung kota Jogja dan menempatkan Pajeksan sebagai tempat paling historikal bagi mereka-mereka ini.
Dari venue, lahirlah sebuah gelaran acara yang memiliki nilai historis penting bagi skena underground Jogja saat ini. Salah satunya ‘’Sounday’’, sebuah acara legendaris dengan menempatkan Fame Club bagai CBGB yang dibidani Bofag, Jack, Sigit, dan Melan. Hal yang unik dilakukan ketiga orang tersebut dengan cara membuat pembauran dengan menempatkan berbagai genre di satu acara. Dalam acara “Sounday’, bisa dilihat kombinasi-kombinasi unik penampil mulai dari yang bergenre noise, space reggae, hardcore, hip rock, hingga britpop, semuanya berada dalam satu panggung yang sama.
Lupakan sejenak tentang internet. Hingga pertengahan tahun 90-an, internet masih menjadi barang mewah dan hanya segelintir orang yang bisa menikmatinya. Jejaring sosial masih menjadi konsep. Yang ada hanyalah jejaring sosial dunia nyata yang disebut komunitas. Dan pada dasarnya, komunitas tersebut harus berterima kasih terhadap semesta yang mempertemukan dalam sebuah venue. Ya, venue, satu hal yang fundamental namun sering diabaikan mengingat bisa dengan mudahnya kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
*diolah dari berbagai sumber
Foto : Istimewa
Comments (0)