Menggali Underground Yogyakarta (Part 1)
by: Bobby Agung Prasetyo
Peran Yogyakarta memang tak bisa disepelekan begitu saja. Kota ini telah sejak lama menjadi “tanah basah” bagi banyak seniman. Sejak dulu, Yogya telah menyandang predikat sebagai kota seni dan budaya. Hal ini didukung oleh status dan letak geografisnya yang sejak era 1970-an menjadi tujuan pendidikan untuk para orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka. Tak heran sampai saat ini, Jogja menjadi sebuah melting pot atau tempat bertemunya orang-orang dari latar belakang yang berbeda, lalu akulturasi budaya dapat mudah terjadi. Semua faktor ini akhirnya turut membentuk iklim budaya dan kreativitas di Yogyakarta, termasuk musik. Lebih spesifiknya lagi, musik dan skena bawah tanahnya.
Pada awal kemunculannya, kota Yogyakarta diwarnai berbagai jenis musik indie terentang dari musik ska, hardcore, punk, hingga reggae. Death Vomit telah menunjukkan taringnya di ranah metal sejak tahun 1992, sementara ditahun yang sama Legion Lost (yang kemudian menjadi Mystis) juga telah merangkum riff-riff metal yang klasik. Peralihan mengikuti arus utama pun kerap terjadi. Saat era ‘Hair Band-Hollywood Rock’ macam Guns’ n’ Roses, White Lion, Bon Jovi, disusul dengan Thrash dengan pattern, “The Big 4 = Anthrax, Metallica, Megadeth, & Slayer” yang dikumandangkan Fahrenheit, Young Guns, 1050, Depranter, disusl dengan kemunculan era alternative ala Collective Soul, Soul Asylum, Live, Silverchair, Nirvana, Pearl Jam yang dihembuskan rombongan Nuance, Blue Shadow, Kaktus, dan I hate Mondayz. Selain Death Vomit dan Mystis, ada juga Brutal Corps, Sabotage, Something Wrong, Black Boots, Dom 65, Shaggydog, Seek Six Sick, Mock Me Not, dan Kowena.

Di tahun 1997, Something Wrong berdiri dan mewakili genre hardcore. Inilah salah satu band yang mampu mendobrak berbagai batas genre. Dari skinhead, punk-rocker, hardcore kids, hingga metalhead, semua berbaur dalam setiap aksi Something Wrong. Tren datang silih berganti, tapi hingga detik ini dedikasi dan integritas mereka tak pernah lekang dimakan waktu. Sementara dari ‘ghetto’ di pinggir sungai Code, Sayidan, Shaggy Dog muncul dengan musik Jamaican sounds nan cemerlang, yang masih bertahan hingga saat ini.
Setiap genre itu memiliki infrastruktur sendiri yang terdiri dari komunitas, pergerakan, media, dan wadah tersendiri. Infrastruktur ini terjadi secara spontan dari inisiatif pribadi yang kemudian ditujukan untuk komunitas dalam rangka memajukan dan mendukung eksistensi komunitas.
*diolah dari berbagai sumber
foto: net
Comments (0)