Collector Confession: Vinyl Favorit Rekti (The Sigit)

Collector Confession: Vinyl Favorit Rekti (The Sigit)

Alasan Rekti memilih lima vinyl tersebut sebagai favorit?
"Setelah dengerin koleksi beberapa minggu ini, lima vinyl itu yang jadi menggugah untuk ngulik. Jadi belanja efek baru dan belajar organ atau synthesizer. Itu mungkin alasan utamanya. Selain karena memang suka sama lagu-lagunya, tapi lebih menarik buat saya pribadi kalau ada elemen yang bikin penasaran."

Rekti adalah tipe kolektor yang bagaimana?
"Saya kumpulin vinyl sejak SMP, sekitar tahun 95-96 lah. Saya beli vinyl itu untuk didengerin. Kayak buku, lah, nyari ceritanya. Kalau gak ramai, gak akan dibaca dan dibeli. Memang, ada beberapa band yang saya kumpulin full discography, kayak Black Sabbath, Led Zeppelin, Blur, Suede, The Beatles, dan lain-lain. Tapi, itu karena udah dari SD – SMP dengerin, jadi semacam koleksi pribadi yang wajib aja.
First press pasti pingin punya, tapi, gak krusial lah. Yang penting bisa didengar dan kondisi platnya bagus, bersih. Kayak Shark Move, first pressnya bisa buat beli motor harganya. Gak masuk akal.
Sikap saya ke masing-masing vinyl juga bakal beda, berdasarkan value personal. Semacam buku atau DVD yang udah bulak-balik ditamatin, tapi masih disimpan terus dan bakal diulang lagi ke depannya. Nah, yang di list ini juga ada value pribadinya sih. mulai dari cara saya menemukan band dan lagunya, sampai ke tahap sempat terobsesi sama si albumnya."

Bagian mana dari musik yang paling mudah bikin Rekti tertarik?
"Hmm… Yang gampang nyangkut riff gitar sih, tapi bukan karena sayanya suka gitar. Kadang riff organ, kadang flute juga. Saya juga masih ngulik, jadi belum begitu bisa jelasin dengan pasti. Tapi, kayaknya yang bikin kuping saya nyangkut sama sebuah lagu tuh nadanya dan cara memainkannya. Hipotesa saya, nada dan cara memainkannya yang bakal bikin frekuensi jadi enak didengar, mau alatnya apapun, mau moda dan progresi nadanya pentatonik atau apapun. Jadi, manusia yang memainkannya yang bikin saya tertarik, sepertinya. Contohnya, lagu yang sama dibawain dengan alat yang sama persis, tapi dimainkan sama orang yang berbeda, belum tentu saya bisa suka sama semua."

Pandangan Rekti tentang Brian Eno dan The Stooges
"Brian Eno dan The Stooges buat saya masih satu nadi. Saya kenal Stooges dari referensi anak punk dan jadi tahu proto punk. Kalau Brian Eno, saya nemu saat lagi terobsesi David Bowie dan glam rock. Eh, ternyata David Bowie juga menggemari The Stooges. Bowie, Stooges, dan Eno itu semacam satu tongkrongan lah, singkatnya. Saling mengapresiasi. Tapi, turunan-turunan yang dihasilkannya menyebar. Stooges jadi memicu band-band kayak The Damned dan Sex Pistols.
Sedangkan Eno, kesini-sini semakin eksperimental, ngulik ambience, dan lain-lain. Dia menginfluence musisi elektronik. Bowie juga pernah kolaborasi sama Rick Wakeman, yang nantinya jadi tonggaknya Yes. Terus, kolaborasi sama Trenz Reznor dan Nine Inch Nails juga. Lagunya Bowie dicover Nirvana. Kalau mikirin semua fenomena itu, jadinya 'klik' aja sih buat saya.
Pokoknya, jadi masuk akal aja gitu buat saya bahwa punk, glam rock, art rock, dan progressive rock itu masih satu nadi. Walaupun sepintas terdengar berseberangan, semuanya datang dari satu pemikiran dan ide yang serupa, Stooges, Bowie, Eno. Genre yang kita kenal sekarang sepertinya semacam variasi warna dan bungkus, yang mana kalau dirunut-runut akan nuntun ke muara atau hulu yang ternyata memiliki kesamaan rasa."

BACA JUGA - Collector Confession: Vinyl Favorit True Megabenz

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner