Cosmicburp: Surga Kecil bernama Berhala (Bagian Satu)
Asumsi, sudut pandang dan kesimpulan berlandaskan impresi. Sisanya, bertabur imajinasi. Voila! Persetan dengan observasi, analisa tai kucing dan kerumitan dua narasumber atau lebih agar berimbang. Hilangkan ketiga hal ini. Mereka yang melabeli orang tidak mau susah payah melakukannya.
Pada prinsipnya segala sesuatu jika memiliki nilai, hal itu akan membentuk pribadi dan karakter seseorang. Lalu kemudian membuka segala indera terutama dalam konteks cara berpikir lalu dikaitkan dengan subtansi, dan bersikap untuk lebih terbuka terhadap segala hal yang ada serta dialami dalam keseharian.
“Berhala” nyatanya banyak terkait dengan ‘budaya primitif’ yang melanggeng dan menjamur belakangan ini di khalayak Indonesia. Di mana banyak kasus, sering terjadi manusia-manusia berperan selayaknya "Tuhan". Sebagai pemberi widi, pemaaf, pengampun, penghukum, pencipta, dan seterusnya. Soal norma dan moral, belakangan banyak pula muncul kaum atau tokoh publik yang berperan sebagai hakim noral. Memberi putusan dan cap tidak layak, stigma buruk bagi kebanyakan "orang spesial" dengan segala kompleksitas diri mereka di luar sana.
Lingkaran setan?
Isu sosial yang kian santer terjadi belakangan ini di masyarakat Indonesia. Mendarah daging. Dibiarkan tumbuh subur di perspektif masyarakat yang semakin subjektif. Walau nyatanya, Indonesia bukanlah negara berpaham tunggal atau berasal dari satu suku, dimiliki satu agama dan keyakinan saja. Hidup di negara yang segala sesuatunya dikaitkan dengan turun temurun dan diwariskan. Begitu juga dengan label. Perlu contoh?
Bagaimana dengan kehidupan mereka yang di cap “sesat”, tak ber-Tuhan katanya, dimarjinalkan sebagai anak-cucu komunis dari para penyintas tragedi 65?
Comments (0)