Cosmicburp: Surga Kecil bernama Berhala (Bagian Satu)
Cosmicburp cermat dalam menangkap isu sosial yang berkelindang di tengah masyrakat Indonesia saat ini. Menyikapinya dengan lirih di sisi lain. Menggambarkan sebuah lingkaran setan (dalam berpikir dan bersikap terutama) yang terjadi dari produk hasil revolusi, reformasi, demokrasi, digitalisasi, dan globalisasi anak negeri.
Individu-individu yang merasa tidak berdosa melenggang tanpa rasa bersalah ketika mempersekusi orang lain, menjatuhkan harga diri orang yang didiskriminasi dengan meninggalkan remah ‘cap buruk’ begitu saja seraya melabeli dengan stigma negatif. Tujuannya untuk apa?
Seakan tidak ada efek jera bagi individu yang melakukannya. Lumrah dan sah-sah saja berlaku seperti itu kepada orang lain atas dasar memang tidak suka, tidak sepaham atau hanya membuat diri mereka tidak nyaman. Tidak memikirkan lebih jauh bagaimana dampak bagi orang yang dilabeli atau diberi stigma negatif. Selain unsur superioritas sebagai pemantik terbesar atas sikap seperti stigma, cap, persekusi dan diskriminasi yang bermunculan dewasa ini.
Cosmicburp menyatakan genderang perang dengan lantang hal-hal negatif tersebut via "Berhala".
"Ordinary morality is only for ordinary people" – Aleister Crowley
Kita semua hidup di abad post modern, di mana berbicara tentang hal-hal tabu, seperti LGBTQ, radikalisme, pelacuran, dan hal-hal yang sebelumnya termarjinalkan, kini sudah bukan menjadi hal yang rancu untuk diperbincangkan atau memilihnya sebagai identitas diri atau tujuan hidup. Semua memiliki kebebasan unutk memilih jalan hidupnya masing-masing. Ranah lain, urusan pekerjaan atau profesi seseorang. Seorang individu layak diperkerjakan dan diperlakukan, karna kapasitasnya bukan dari segi kekurangannya.
Manusiawi jika setiap manusia punya kekurangan. Dari kekurangan itu maka kita akan belajar untuk mengisinya atau menyalurkannya menjadi hal positif. Tapi sikap-sikap seperti ini tidak bisa dan jarang sekali terjadi dan mudah diterima oleh khayalak di Indonesia. Kita hidup untuk membuat nyaman orang lain. Dipaksa oleh keadaan, lingkungan dan norma untuk melakukan banyak hal meski itu bukan keinginan diri kita sendiri. Untuk tahap ini, maka memberontaklah jangan berdiam diri dan menikmati untuk terus ditindas.
Comments (0)