Daniel Natjaard dan Segala Aktivitas di Berbagai Proyek Musik Garapannya
Beralih ke proyek-proyek musik yang digarap mas Daniel. Proyek musik apa saja yang digarap oleh mas Daniel dan siapa band atau musisi yang paling berpengaruh untuk musikalitas mas Daniel?
"Bisa agak panjang nih, hahaha…
Hordavinthra, terang-terangan menggugu dan mengagungkan Dissection-nya Jon Nodtveidt dari ujung ke ujung. Dalam proyek yang satu ini, Nodtveidt adalah Mahadewa mutlak. Albumnya baru saja saya rilis di awal tahun ini, menggandeng Resting Hell sebagai partner asyik yang sangat kooperatif dan saling menyenangkan. Dibuka dengan penjualan 33 keping box-set eksklusif yang sold out pada saat pembukaan pre-ordernya.
Natjaard, lebih fleksibel dan global dalam proses racik-meracik ramuan di dalamnya. Di sini, saya mengumpulkan sebagian referensi bebunyian dari band-band terdahulu yang saya suka, seperti Rotting Christ, Alastis, Dismal Euphony, Vaakevandring, dan Ouija untuk dijadikan dalam satu cakupan hipotesis yang semoga hasil blendingnya tidak semena-mena. Mungkin akan terdengar gado-gado dan loncat-loncat dari lagu satu ke lagu lainnya bila saya tidak hati-hati atau sembrono dalam menyatukan beberapa elemen tersebut. Albumnya saya rilis di tahun 2016, dan sementara masih dalam penggodokan lebih lanjut untuk materi album selanjutnya.
Somberfrost, adalah salah satu ungkapan ego dalam merealisasikan bunyi-bunyian yang (kepinginnya sih) mewah dan megah. Keinginan untuk mengeksplorasi puluhan ornamen dalam satu lagu atau pun satu album saya tuangkan sepenuh hati disini. Salah satu pendorongnya adalah ketika saya mencermati soundtrack yang diciptakan oleh orang gila bernama Andrew Lloyd Webber dalam film “Phantom Of The Opera”, tak lupa juga Kitaro, Yanni dan Enya yang juga menjadi salah satu sebab dominan untuk kelahiran niat saya dalam menciptakan Somberfrost. Tujuh tahun belakangan ini, saya juga mulai mengikuti komposer-komposer gila yang mulai bermunculan dengan karya-karyanya yang ganas, sebut saja Peter Crowley, Brunuh Ville, Antti Martikainen, Audiomachine, Thomas Bergersen hingga Tina Guo. Album perdana sudah saya rilis di tahun 2016, dan tahun ini semoga menjadi waktu yang tepat untuk perwujudan bentuk fisik album kedua.
Hailsail, ini adalah proyek nekad yang serta merta muncul gara-gara film “Pirates Of The Carribean”, ditambah dengan mulai naik daunnya band Alestorm yang terang-terangan mengupas tentang era bajak laut dan konten terkait dalam cerita tersebut. Karena saya nggak pernah menjadi pelaut dan bajak laut, hanya berkali-kali menikmati perjalanan laut, mau tidak mau tekad ini saya utarakan alam bentuk fiksi, dan seperti biasa juga diselimuti dengan bahasa metafor seperti proyek saya yang lainnya. Sempat merilis satu single, “Waltzcoholeus Grimskull” di tahun 2013, kemudian saya tangguhkan karena sesuatu dan lain hal, dan saya merampungkan proyek lain terlebih dahulu. Proyek ini masih dalam penggarapan 70%, dan kalau tidak ada halangan akan diejawantahkan secara fisik juga di tahun 2018 ini.
Nevertale, pada awalnya saya itikadkan untuk mengakrabkan nada dan ornamen oriental di sini, sebagaimana yang sudah dilakukan Chthonic, Tengger Cavalry dan The Nine Treasure. Kemudian, saya mendengarkan materi lagu dari band bernama Whispered, yang pada hakikatnya adalah para musisi Finlandia tapi memainkan lagu yang kental sekali nuansa oriental Jepangnya. Maka kemudian tercetus pula, kenapa tidak saya memainkan musik oriental. Tahun 2012 sempat saya rilis single “Through The Infernal Valley” yang semampunya ingin mengangkat nada oriental itu tadi. Semakin berjalan kesini, niatan tersebut kemudian berbanting arah, karena untuk pengekspresian hal-hal bernuansa oriental tadi pada akhirnya saya lempar ke proyek saya yang lainnya. Nevertale saya garap tahun ini, dengan mengedepankan tanah dan darah yang ada di dalam saya, yaitu Surabaya, Madura dan Bengkulu, yang nantinya akan menjadi tema utama dalam keseluruhan muatan pada bentuk karyanya.
Martir, sebenarnya adalah proyek solo perdana saya yang saya mulai di tahun 2002. Tercipta pada saat saya didaulat untuk mengisi soundtrack di film indie “Lain Dunia” karya Agoes Sam, sahabat saya. Dengan keterbatasan equipment yang ada, saya menciptakan 15 lagu untuk film tersebut, di mana 10 lagunya full instrumental, dan 3 lagu format full band, yang kemudian saya klaim dengan semena-mena menggunakan nama Martir, hahaha… Genrenya buat saya adalah genre sak karepku, semau saya, seenaknya dan sekenanya. Proyek ini digarap juga sesuka hati mulai 2002, lanjut 2004, baru lanjut lagi 2008, dan terakhir 2013. Ada sekitar 12 lagu yang sudah saya hasilkan di Martir yang hingga saat ini belum saya ekspos kemana-mana, karena ya itu tadi, genrenya gada-gado."
Comments (0)