Daniel Natjaard dan Segala Aktivitas di Berbagai Proyek Musik Garapannya
Mengapa lebih memilih membuat banyak proyek ketimbang fokus di satu proyek musik?
"Ini ibaratnya mencampur gado-gado ke nasi rawon. Katakan lah, satu saat saya ingin membuat lagu yang sangat kental nuansa keroncong atau dangdutnya. Hal seperti ini akan sangat tidak mungkin untuk saya terapkan kedalam Natjaard, misalnya, atau ke dalam lagunya Hailsail. Sejak kapan bajak laut zaman itu mendengarkan dangdut atau keroncong? Hahaha... (Eh, tapi bisa jadi juga lho ya? Kita nggak pernah tahu soalnya, hahaha)
Jadi, kenapa akhirnya muncul proyek yang berbeda-beda yang saya ciptakan, kurang lebih karena (bila ingin disebut) fokus itu sendiri, agar saya juga tidak sembrono dalam menuangkan warna ataupun ornamen di luar ranah atau benang merah musik yang saya bawakan. Saya nggak mau dalam Natjaard kemudian ada bunyi ketipung, atau katakana lah pada lagu Somberfrost ada growl tanpa jeda selama tiga menit dengan power yang meletup-letup, atau katakana lah saya memaksakan kehendak untuk mengikutsertakan blast beat tak berkesudahan di band saya Valerian, pastinya akan terdengar sangat tidak Valerian bila benar kejadian.
Ini yang saya pegang hingga sekarang, untuk tetap menggarisbawahi dengan cermat, ornamen apa saja yang akan saya blend di dalam masing-masing proyek, dengan harapan ya itu tadi, puas sepuasnya, senang dan semaunya, tapi mudah-mudahan nggak ngawur, hahaha…"
Banyak proyek musik mas Daniel yang merupakan solo project. Apa kesulitan dan kemudahan dari menggarap solo project?
"Hal yang menyulitkan hampir nggak ada sebenarnya, hanya kadang sedikit bersenggolan dengan yang namanya waktu, tempat dan kondisi saja. Nada yang didapat, dikumpulkan dalam kepala, mulai dari bunyi drum hingga vokal, dan secepat mungkin didefinisikan dalam bentuk riil bebunyian. Katakan lah misal sedang berkendara di jalan, nada atau inspirasi melintas, kemudian terpaksa berhenti. Bersyukurlah saat ini pada telepon selular sudah ada fasilitas recorder. Jadi, bisa langsung saya rekam dengan suara mulut, entah itu pattern drum ataupun nadanya. Mau gak mau pakai mulut dulu, karena notabene kita sedang berada di jalan raya, dan jelas tidak sedang membawa drum set ataupun head cabinet, hahaha…
Saat nada bersambut dengan inspirasi, ditunjang mood yang sedang bagus (karena bukan lagi bulan tua), di sana lah tercapai kemudahan dan kelancaran dalam penggarapannya. Kerap terjadi yang namanya “lupa waktu”, karena alur dan ide terus bergulir di dalam ruangan. Masuk jam 9 pagi, keluar ruangan lho kok sudah gelap gulita waktunya ganti shift satpam di gardu."
Comments (0)