DCDC Shout Out Highights : Pelestarian Budaya Sunda Dalam Musik Kasurupan

DCDC Shout Out Highights : Pelestarian Budaya Sunda Dalam Musik Kasurupan

Berbarengan dengan dentuman irama cepat nan keras yang dimainkan, Kasurupan menyisipkan sebuah energy kultural pada penampilannya di Garut kemarin.

Dari segelintir grup musik yang tampil kemarin, di acara DCDC Shout Out Day chapter Garut, ada satu grup musik yang cukup terbilang unik. Nama grup ini adalah Kasurupan, dan secara garis besar mereka memainkan musik Death Metal. Disamping memainkan musik yang awalnya muncul di negeri barat itu, Kasurupan menyisipkan sebuah energy kultural pada alunan cadasnya. Dan pada penampilannya kemarin, antusiasme para pengunjung yang didominasi oleh warga Garut kala itu nyatanya bukan isapan jempol belaka ketika Kasurupan menggila di atas panggung.

Dalam formasinya, Kasurupan terbentuk dari tahun 2012 dan beranggotakan 5 orang lelaki sebagai motoriknya. Diantaranya adalah Bangga ‘gaga’ (vokal), Fauzi ‘gezod’ (bass), Esfan ‘ukong’ (gitar), Hilmy ‘mimi’ (gitar) dan Andika ‘ilaw’ (drum). Namun, sebelum formasi ini terbentuk, untuk bagian vokal sebelumnya diisi oleh Sendi dan sempat menelurkan beberapa materi musik yang diantaranya berjudul “Ridho Indung Ridho Allah”, Pamapag Ajal Panungtung, dan “Meurih Diri Nyenang Jiwa”. Sedangkan saat formasi sekarang, Kasurupan berhasil menciptakan materi musik seperti “Immortality of Sunda”, “Nu Ngora Boga Lalakon”, dan “Mantan Ditangan Setan”. Dari penjudulan untuk materi karya musiknya bisa disimak bahwa Kasurupan memang mengangkat sisi budaya lokal dalam musiknya, khususnya Sunda. Mungkin untuk ranah musik cadas, ada satu grup musik yang bisa dikaitkan dengan Kasurupan, tak lain dan tak bukan adalah grup metal asal Bandung, Jasad.

Akan tetapi, ketika Kasurupan tampil pada acara DCDC Shout Out Day chapter Garut kemarin, bukan hanya pelabelan semata saja menggunakan adat istiadat Sunda pada musiknya melainkan cukup dijiwai bagi personilnya. Mulai dari berututur kata sebelum penampilannya dimulai menggunakan bahsa Sunda, menggunkanakan Iket sebagai bentuk pelestarian budaya lokalnya, serta aksi panggungnya pun cukup diwarnai akan hal itu. Disamping itu, beberapa penuturan lagu diatas merupakan lagu yang dibawakan ketika penampilan Kasurupan berlangsung. Dan didapati dari hasil wawancara bersama salah seoarang pihak Kasurupan melalui via chat Whatsapp. Dilanjutkan dengan ujarannya mengenai alasan untuk mengikuti program ShoutOut Day 2017.

“Event nya keren berbeda dengan event-event yang lain. Di event SODAY kami ditungtut untuk benar-benar dalam bermusik. Karena di event SODAY ada sesi coaching clinic dari Zoteng (Forgotten) dan sounchek itu sangat bermanfaat bagi semua personil band yang ikut di event SODAY. Event SODAY sangat dibutuhkan oleh semua pecinta musik di Garut, karena event SODAY sangat eksklusif”.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner