DCDC ShoutOut! Highlight : Save Better Meneruskan Semangat ‘Rock Kotor’ Di Kota Subang
Pada perjalanan karir bermusiknya, band ini telah merilis mini album, yang berisikin lagu-lagu dengan nuansa distorsi yang pekat, riuh, berisik, untuk bicara banyak jika genre musik semacam itu masih bisa besar dan membakar
Pada gelaran “Bhinneka Tunggal Ika : Liman Soka”, di Subang, diantara beberapa band yang tampil di panggung Shout Out, ada satu band bernama Save Better, yang hadir dengan semangat “rock kotor”, yang dulu pernah dibawa Nirvana, kala mereka menginvasi dataran Amerika, dengan distorsi kasar dan pola-pola alternatif meramu musik, yang dikemudian hari dikenal dengan istilah grunge. Save Better menarik karena padatnya komposisi musik mereka, meskipun hanya disuguhkan oleh tiga orang saja. Beberapa kendala teknis pada gitar, bisa ditutupi oleh permainan bass yang solid, ketika perannya membentuk bangunan ritmis yang enak untuk ber-headbang ria. Spirit seattle sound yang dibawa Save Better, seakan menghadirkan kembali memoar kejayaan grunge era 90an. Pola-pola familiar bagi generasi saat itu, hadir kembali lewat trio ini.
Pada perjalanan karir bermusiknya, band ini telah merilis mini album, yang berisikin lagu-lagu dengan nuansa distorsi yang pekat, riuh, berisik, namun dibaliknya menyimpan energi cukup besar, untuk bisa bicara banyak jika genre musik semacam ini (mengutip dari istilah Che Cupumanik), masih bisa besar dan membakar. Popular di era 90an, alira musik semacam ini mengalami pasang surut, sampai beberapa band yang punya passion serupa, mau memproklamirkan jati diri mereka, sebagai bagian dari ranah musik bawah tanah, dengan pergerakan dan semangat yang sama besar, jika harus dibandingkan dengan komunitas metal atau punk misalnya.
Band-band dengan genre seperti ini rupanya tidak hanya dimiiki kota Bandung, yang melahirkan Cupumanik dan Freak misalnya. Namun juga lahir dari tempat-tempat yang bisa dibilang agak terlupakan, dari radar ranah musik bawah tanah di Indonesia. Ini terbukti dari beberapa gelaran “Bhinneka Tunggal Ika : Liman Soka”, seperti di Karawang yang melahirkan band Karotor, dan Subang yang melahirkan Save Better ini. Lagu-lagu Save Better yang terbilang tanpa kompromi ini, melahirkan muntahan lirik dengan sajian ‘orkestra bising’, lengkap dengan teknik olah suara gitar ‘noise’, sebagai penegasan jika mereka sedang merayakan bebunyian, dan menjadi bagian dari kebisingan itu, jauh melampaui dari definisi bermain musik, karena sejatinya, mereka adalah bagian dari musik itu sendiri.
Comments (0)