DCDC Substereo : Percikan Entitas Pop Era Lawas Oleh Curly & Me

DCDC Substereo : Percikan Entitas Pop Era Lawas Oleh Curly & Me

Curly & Me mengenalkan ciri khas pop era 60-an di ranah arus musik utama saat ini.

Ada perbedaan yang cukup signifikan antara musisi dari major label dan indiependent. Musisi yang berada di jalur musik major label, mempunyai sistematis yang sangat tertata baik itu dari segi promosi hinga peneluran karya yang satu sisi harus meledak di pasaran. Sedangkan untuk indiependent sendiri lebih idealis dan cenderung tak terlalu memperdulikan seberapa banyak hasil yang didapati dalam penjualan album. Mungkin seperti itu hal yang terjadi ketika Everly Brothers, Lobo atau Jon Denver dalam mempopulerkan musik mereka pada era 60-an silam melalui ranah major label.

Banyak orang mengagumi karya yang mereka hasilkan – meledak dipasaran hingga menjadi identitas penting untuk musik Pop/Folk/Country. Sampai pada akhirnya apa yang populer pada masa itu, perlahan mulai sirna dan berganti arah seiring berjalanannya waktu semilir dengan trend pengembangan musik. Dalam artian, jenis musik yang dulunya populer di jalur mainstream – sebagai artis major label – berganti masa – dihadirkan kembali oleh musisi yang berada di jalur indiependent. Seperti jalur musik yang kini sangat beragam, Curly & Me selaku grup musik muda yang terbentuk pada tahun 2016 di Kota Bandung, mengambil jalur pop yang dulunya populer di era 60-an. Dan secara tidak langsung, ini adalah bentuk revival dari mereka.

Curly & Me adalah sebuah grup musik beraliran Pop, yang ber-identitas Pop/Country/Folk era 60-an. Sepintas melihat penampilan mereka kemarin saat mengudara di radio OZ 103.1 Fm Bandung, dalam acara DCDC Substereo, nuansa pop revival dimunculkan oleh dua lelaki itu. Yang beranggotakan Ganesha Wibisana (Guitar/Vokal) dan Aris Endie (Vokal), tepatnya pada tanggal 30 January 2018 kemarin, yang pada tahun lalu merilis sebuah single pengenalannya berjudul “Concordia”.

Saat penampilannya berlangsung pada malam itu, Curly & Me terlihat sangat sederhana. Selain hanya beranggotakan dua personil yang memainkan gitar dan vokal, musik mereka juga demikian halnya. Seperti banyak melakukan petikan gitar yang terkesan santai bernuansa tanah gersang di daerah Texas, serta vokal yang bernuansa retro yang populer saat era Kolonial Belanda, menjadi benang merah musik yang mereka mainkan. Sepintas saat menyaksikan band ini, dan membandingkan dengan grup berformasi duo yang marak bermunculan saat ini, Curly & Me terlihat layaknya band Folk. Tapi, ternyata salah, mereka murni memainkan aliran musik Pop dengan pendekatan era 60-an. Tak lepas dari tudingan tersebut, band ini juga mirip dengan beberapa nama besar musisi seperti yang telah disebutkan ketika muncul pada masanya.

Selain tampil secara live, Curly & Me juga dihadapkan dalam sebuah segmen wawancara radio bersama penyiar dari OZ 103.1 Fm Bandung. Mereka adalah Ekky Dharmawan dan Denny Hsu, menanyakan tentang perjalanan musik Curly & Me sedari awal terbentuk, tampil di beberap gigs, sampai berhasil merilis single “Concordia”.

Sangat unik untuk musik yang dimainkan oleh band ini. Unik dalam artian, maknanya cukup meluas. Baik dari segi musikalitas, hingga ketika menyaksikan live performance-nya seperti mendengar rekaman kaset pita musisi lawas. Bahkan suasananya pun ikut melebur bersama musik mereka. Tapi sayang, waktu itu single yang dirilis pada 2017 lalu tak dimainkan. Curly & Me menggantikan dengan lima judul lagu lain. Diantaranya adalah “The Bird Longs For It’s Nest”, “Supper May Come Late”, “Song For You”, “Ordinary Friend” dan satu hidden track berjudul “ Amelie”. Dan pada sesi wawancara, Curly & Me juga mengatakan bahwa tahun ini mereka berencana untuk menggarap – merilis mini album pertamanya. Bagaimana hasilnya, nantikan saja seperti apa jadinya.

 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner