Dibalik Nama Aksara Records

Dibalik Nama Aksara Records

Aksara records adalah label yang menaungi Band indie yang akan meluncurkan album. Mereka semua mengawali manajemen dan produksinya secara indie sebelum kemudian bergabung (atau diajak bergabung) dengan Aksara records.  Artinya, Label Aksara Records sudah pasti tahu dan mengenal betul jiwa pergerakan independent yang sesungguhnya. Sudah paham bagaimana bekerjasama secara hangat dengan musisi-musisi yang berkarya dengan tidak instan dan penuh pergulatan.

Aksara Records yang didirikan oleh Hanin Sidharta dan David Tarigan sejak Tahun 2004. Label ini merupakan salah satu cabang bisnis yang dimiliki oleh Aksara Bookstores, salah satu chainstore buku terkemuka di Ibu Kota. Rilisan mereka rata-rata berfokus pada genre musik eklektrik seperti indie pop, electropop, indie rock, jazz hingga triphop.

Rilisan pertama Aksara Records adalah CD kompilasi JKT:SKRG (2004) yang berisi 12 band indie lokal yang sampai hari ini sangat dikenal namanya di seantero Indonesia. Mereka adalah C’mon Lennon, SORE, The Brandals, The Upstairs, Seringai, The Adams, Zeke & The Popo, Teenage Death Star, Sajama Cut dan lain-lain.

Selain merilis katalog musik milik artis lokal, Aksara Records juga sempat merilis album-album milik artis-artis indie internasional di antaranya Arctic Monkeys, M.I.A.,Vampire Weekend, Thom Yorke, Basement Jaxx, Club 8 hingga The Whitest Boy Alive.

Selama enam tahun beroperasi, Aksara Records hingga kini telah merilis sebanyak 32 album milik artis indie lokal dan internasional. Bahkan juga merilis pula album soundtrack dari beberapa film blockbuster Indonesia seperti Janji Joni, Berbagi Suami dan Quickie Express.

Sementara rilisan terakhir Aksara Records adalah album kedua Efek Rumah Kaca bertitel “Kamar Gelap” yang telah beredar sejak Desember 2008 lalu. Praktis sepanjang Tahun 2009 ini tak ada satu pun rilisan lokal yang diluncurkan oleh Aksara Records.

Sejak awal 2009 Aksara Records sebenarnya sudah mengalami  kebangkrutan  dan untuk kendali bisnis pada pertengahan tahun itu kondisinya sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Seluruh urusan administrasi, royalti dan kontrak rekaman yang berhubungan dengan artis akan diselesaikan secara internal sedangkan hak kepemilikan master album rekaman akan diberikan kepada artis-artis yang berada di bawah label Aksara Records.

Apapun yang telah menyebabkan kejatuhan Aksara, label independen ini akan masuk dalam sejarah musik Indonesia sebagai loncatan penting. Ibarat seperti majalah online Pitchfork di Amerika Serikat, Aksara Records-lah yang bertanggung jawab untuk membawa karya seni indie ke arah mainstream. Dengan membuatnya menjadi hip dan laku. Di dalam proses itu Aksara juga telah membantu mencerdaskan pendengar musik Indonesia dengan musik-musik kelas satu dari Sore, Efek Rumah Kaca dan Tika and the Dissidents.

Walau Aksara Records berhenti beroperasi namun sebagian karyawan indie label ini telah sepakat untuk meneruskan perjuangan mereka dengan membentuk sebuah label rekaman baru bernama Raksasa Records.

View Comments (1)

Comments (1)

  • BabyHoey
    BabyHoey
    19 Sep 2015
    Cara masukin demo nya gimana
You must be logged in to comment.
Load More

spinner