Distant East, Pop Sederhana Namun Bising
Distant East adalah Em Ciptanya (vokal, gitar), Ancha (gitar), Fajar Nugraha (bass, vokal latar) dan Aditiaka Syamsuddin (drums). Empat orang penyuka musik-musik sederhana. Bertemu karena tinggal dan bekerja dalam satu kota. Berkumpul dan bermain di sela-sela jenuh rutinitas biasa. Lalu mencoba menulis cerita lewat lagu, selepas senja.
Ceritanya ada-ada saja. Latarnya realita di kota. Karena memang ibukota metropolitan masih mengajarkan ambisi untuk perkasa. Dimana yang kuat yang berkuasa. Layaknya di hutan rimba. Hasilnya, ada yang sudah merasa bosan menjadi mesin pencetak prestasi belaka. Ada yang kesepian karena tak punya teman setia. Ada yang dianggap tidak normal karena tidak suka uang dan harta. Ada yang kesal dan lari ke luar negeri di utara. Ada juga yang kerja keras sampai sakit hingga biayanya mengeruk hasil kerja kerasnya.
Semuanya coba ditulis dan dilagukan lewat jurnal bersama. Distant East. Kadang digambarkan dengan kiasan, kadang apa adanya. Kadang dinyanyikan sederhana dengan harmonisasi seperti The Beatles atau The Jam. Kadang diteriakkan keras-keras seperti Nirvana. Gitarnya kadang berdenting petikan seperti R.E.M. Kadang juga berdistorsi kencang-luar-biasa seperti Dinosaur Jr. Yang pasti suara-suaranya mentah dan kasar seperti berisiknya manusia yang mengeksploitasi apa saja. Seperti berisiknya manusia di televisi dan media lainnya. Seperti berisiknya manusia pula yang suka membicarakan sesama.

Tahun 2011 Distant East bertemu dan bersahabat dengan Reino Wibowo. Ia pemilik label independen Don’t Fade Away Records, tempat dimana band indie-pop Tropical Thrust berpayung. Ajakan untuk bergabung pun diterima. Membuat mini album jadi agenda pertama.
Tahun 2012 ini, mini album Distant East dirilis. Judulnya “1995”. Ceritanya tentang belajar merekam karya yang lahir dari kumpulan cerita bersama tadi. Lagu-lagunya dicipta spontan seperti anak-anak yang selalu suka menggambar apa saja, yang baru saja mereka lihat tadi siang. Permainannya tidak sempurna seperti masa-masa pra digital yang pernah jaya. Isinya lima lagu, empat Bahasa Inggris, satu Bahasa Indonesia. Bukan bermaksud gaya, tapi bahasa Inggris dipakai sementara, sembari belajar membuat lebih banyak karya baik dalam bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia itu sakral dan perlu dipelajari perlahan pemakaiannya.
Distant East tidak bermaksud ada untuk meramaikan belantika musik Indonesia. Toh ia sudah ramai luar biasa bak pasar yang penuh transaksi jual beli belaka. Distant East juga bukan sekedar hiburan saja. Distant East adalah catatan-catatan empat orang yang hidup di kota, yang dialih-bentuk-kan menjadi kumpulan nada. Seringkali ditambah drama, tapi tak pernah lari dari realita. Kisah di dalamnya mungkin relevan, mungkin juga tidak, dengan sebagian orang. Tapi yang pasti, niatannya hanya ingin berbagi cerita dan mencari teman lebih banyak. Agar semua bisa tertawa dan merenung bersama. Dan, tak lupa menjadi manusia.
Contact:
Oleh: Karel
Foto: Distant East Docs
Comments (0)