Elaborasi Saratuspersen Dalam Banyak Warna

Elaborasi Saratuspersen Dalam Banyak Warna

Saratuspersen menyodorkan salah satu ciri khas terkuat mereka melalui ethno-colossal yang berbicara tentang ‘kekayaan intelektual’ di dalam ranah besar bernama musik di Indonesia, yang juga berbicara tentang kekayaan budaya bangsa beserta kearifan lokalnya.

Kekayaan budaya bangsa dan juga kearifan lokalnya, yang merupakan ‘jati diri nusantara’ tersebut kini seolah sedang menancapkan kuda-kuda terkuatnya untuk bertahan dari gempuran berbagai kebudayaan luar Nusantara yang sedang mengajaknya ke dalam pertarungan kultur dan popularitas. Budaya khas Indonesia dan budaya dari luar, kini akhirnya berada di atas tanah-air yang sama; namun seringkali justru tidak ingin saling kenal, apalagi bersentuhan. Tidak sedikit dari masyarakat yang akhirnya menganggap bahwa budaya dari luar itulah sebagai ‘pemenangnya’.

Singkat kisah, sekeping album CD dari band Saratuspersen saya beli. Judulnya “The Sound of Orang Kampung”. Sebuah ethno-carnaval berjudul “Don’t Move” tampil sebagai lagu pembuka. Sebuah ketukan ala hip-dance serta groove yang funky hadir sebagai tema lagu yang coraknya dipenuhi sayatan gamelan Bali berkecepatan tinggi. Lagu ini mengisyaratkan sebuah sindiran terhadap orang-orang yang hanya bisa diam tanpa bergerak, karena judul “Don’t Move” itu sendiri merupakan sebuah ‘rangsangan’ dalam makna negasi. Ada sebuah esensi yang saya tangkap dari lagu tanpa lirik satu ini: bahwa kemana pun kita bergerak dan mencoba berlari, kita tidak akan bisa menghilangkan rasa ke-Nusantara-an kita. Moving or not, leaving or not, we are still and will be the Indonesians ever after. Hal ini bisa terlihat pada detik ke-67; di mana pola aransemen mereka ‘menyesesatkan diri’ ke sebuah perkampungan ber-atmosfir Sunda-Betawi yang dipimpin oleh instrumen biola yang memainkan skala nada ala rebab. Setelah itu, musik kembali mengalunkan tema parade. Dan selanjutnya kita ‘terpaksa’ menjadi korban ‘penculikan kedua’ untuk diselundupkan ke sebuah perkampungan Minang, yaitu ketika lagu memasuki durasi detik ke-125. Bagian akhir lagu ini bertemakan ethno-colossal; tema yang seakan menjadi jembatan untuk masuknya bagian intro lagu kedua mereka.

Memasuki tembang nomor dua, masing-masing instrumen seakan ikut berpartisipasi untuk melatari sebuah pertarungan sengit antara musik Samba ala latin versus musik Daminatila ala Sunda. Sebuah sesi percussive-solo yang menggama pada pembukaan lagu ini memiliki kemegahan tersendiri karena menghadirkan adegan ‘cekcok’ drummer versus latin-percussionist. Skala nada pentatonik ala Sunda dijadikan sesi melodis, sedangkan ketukan musik afro-latin dijadikan fondasi ritmis. Sehingga lahirlah ethno-colossal “Latinamina”. Sebuah penjudulan yang saya rasa cukup kreatif untuk menamai sebuah penciptaan sub-genre baru. Pertarungan lintas etnis tersebut ditengahi oleh permainan bass dan biola yang berpola repetitif, serta permainan brass yang seolah memposisikan dirinya sebagai pemandu sorak atraktif dalam ‘pertandingan’ tersebut. Dalam ‘pertandingan’ yang cukup ber-adrenalin ini menyisip sebuah sesi interlude yang dijaga oleh Muhammad Iman, sang pemain kendang – ini merupakan sesi jeda sebelum dinamika kembali memuncak. Lagu ini menjadi salah satu penegas pesan dari Saratuspersen di album ini: bahwa musik ethnic dari seluruh dunia pada dasarnya memiliki relevansi dan persamaan universal dari sisi ketukan dan irama, sehingga celah untuk harmonisasi dan improvisasi sebetulnya terbuka sangat lebar. Sebuah bukti fleksibilitas dari produk seni bernama musik.

Saratuspersen menyodorkan salah satu ciri khas terkuat mereka melalui ethno-colossal yang selanjutnya, “Labirynth”. Lagu ini mengingatkan saya akan grup musik ska, Reel Big Fish – yang seakan-akan sedang kesurupan mantra ‘kecak’ dan ‘barong’. Lagu ini dikonsep agar groove-nya tetap nyaman untuk didengar dan enak untuk bergoyang, walaupun dari segi musikalitas lagu ini mengandung bagan aransemen yang tidak lazim dan menyajikan beat serta tu-ti yang variatif. Komposisi yang bercerita tentang sebuah dimensi ruang tanpa ujung ini bisa dibilang merupakan yang paling kompleks dibanding materi-materi lain pada album ini.

Kemudian hadir “Doger Monyet” sebagai sebuah bentuk auto-kritik dari mereka (sebagai pengusung seni budaya) terhadap lingkup seni tradisi itu sendiri. Lagu yang pada awalnya sempat diberi judul “Monkey Umbrella” ini mencoba mengungkap sebuah perasaan prihatin terhadap monyet-monyet yang ‘disiksa’ oleh manusia. Pada kesenian doger monyet; yang notabene hanya ada di Indonesia, seekor monyet diberi payung mainan untuk ‘dipekerjakan’ melalui berbagai atraksi di pinggiran jalan. Monyet itu diberi musik sejenis gamelan doger agar tubuhnya terus bergerak dan melakukan beberapa jenis aktifitas yang sebelumnya sudah dilatihkan kepadanya sebagai pancingan sebelum diberi makan. Namun pada satu sisi, ternyata si manusia lah yang justru ‘berpayung’ pada seekor monyetyang ‘disiksa’ sebagai mata pencahariannya. Saratuspersen membalut rasa prihatin ini dengan kemasan musik ceria yang perkusif dan powerful sebagai simbolisasi sebuah ironi dalam keseharian kita.

Sedangkan tembang berjudul “Walkman” seakan mengilustrasikan seseorang yang sedang berjalan-jalan pada suatu sore di ‘kampung’ yang kini semakin terlihat modern dimana-mana. Harmonisasi brass-section yang lahir dari tiupan trombone Mochammad Febri seolah menimbulkan kesan yang enerjik namun bersahaja. Lagu ini juga dilengkapi misi ethno-revival dari Saratuspersen yang menyisipkan aransemen dari lagu tradisional Betawi “Kicir-Kicir” di tengah-tengah nada utamanya.

Bukanlah namanya ‘kekayaan intelektual’, jika di zaman seperti ini tidak bisa bergerak secara fleksibel, untuk kebutuhan mendobrak sisi-sisi kaku sebuah trend zaman. Sebuah kekayaan intelektual, jika ‘dikendarai’ dengan tepat dan seimbang, akan menjadi sebuah inspirasi baru untuk melahirkan mind-set yang lebih dinamis.

Sumber Foto : Dok. Pribadi Saratuspersen

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner