FOGFEST 2019, Sebuah Upaya Mem-Black Metal-Kan Nusantara
Di sinilah petualangan visual dan imajinasi kami dimulai, ketika satu persatu band tampil di atas panggung. Sebagai sebuah sub-genre dari ekstrim metal, black metal hadir dan bermutasi menjadi banyak bentuk dan bunyi. Ekspresi yang dihadirkan beragam, lengkap dengan sajian visual dalam bentuk kostum dan make up. Lanskap pegunungan dengan hutan pinus, udara dingin dan kabut seolah mengembalikan black metal pada habitat sebenarnya.
Gunung Lawu adalah salah satu gunung yang sarat dengan mitos dan legenda mistis dalam kepercayaan Kejawen. Hadirnya gelaran black metal di lokasi tersebut seolah mendapat justifikasi lewat ekspresi yang hadir. Musik yang mengedepankan nada-nada horrifying dan terrifying mengantarkan kami pada sebuah dimensi di mana kekuatan alam hadir dalam bentuk dewa dan dewi yang berjalan beriringan bersama di atas muka bumi. Perjumpaan dua kutub budaya bisa dirasakan di festival ini, baik secara audio maupun visual. Viking warrior dan para penyihir pagan dari daratan Skandinavia bersanding dengan ksatria-ksatria di masa kerajaan Nusantara di masa lalu. Ditambah lagi, hadir satu sosok yang merupakan simbol Fogfest di tengah-tengah kerumunan, lengkap dengan kostum khas prajurit Viking dengan rias wajah khas black metal. "Supaya nuansa Norwegianya tetap terasa", jelas Hernandes.



Beberapa penampil di Fogfest 2019 | Kredit foto: Karina Supriaman



Beberapa penampil di Fogfest 2019 | Kredit foto: Julious (Makam)
Satu persatu band tampil mengisi panggung hingga malam merayap pelan dan kegelapan total menyelimuti lembah Sekipan. Kabut rapat seolah enggan beranjak menaungi kami yang terpaku oleh biusan dingin dari musik musik berdistorsi. Terjadi kolaborasi yang menarik di antara band yang tampil menampilkan nomor-nomor lawas dari band-band di masa black metal lahir. Tentu saja, nomor "Black Metal" dari Venom tidak luput dibawakan, hingga akhirnya jam 10 malam menjadi puncak dari penampilan band terakhir.
Comments (0)